Mubaligh Penumpuk Harta

Posted on Updated on

Aa JimmyDulu ulama datang dengan wajah faqih atau sufi, ahli dan menguasai hukum-hukum agama, disaat masyarakat membutuhkan bimbingan ruhani mereka datang menjawab berbagai masalah kehidupan. Jika ada yang datang menderita penuh nestapa, tangan mereka terulur segera. Hidup mereka sederhana dan dekat dengan kaum papa. Mereka pernah dan selalu hadir dalam keseharian kehidupan kita.

Sekarang para mubaligh datang dengan wajah berbeda. Mereka tampil trendy, bukan dari tatapan jamaah tapi oleh tuntutan sorot kamera atau pemirsa. Slot waktu dan iklan telah merubah kata-kata mereka. Apa yang mereka ucapkan harus disesuaikan dengan selera pengelola media, hukum “pasar” adalah ideologi mereka.  Kalau dulu para da’i harus belajar puluhan tahun bahkan pergi ke mancanegara, sekarang hanya dibutuhkan retorika. Kini semua itu tinggal kenangan, yang ada hanyalah kutipan kata-kata mutiara dan kisah-kisah penggugah dipoles seindah nirwana. Tak ada dialog apalagi “pembelajaran” yang mencerahkan logika. Mereka terampil mengolah kata, tapi kering akan makna. Sehari-hari tampil bak selebritis, berdandan laksana burung merak, tapi mereka datang dalam dunia yang hampa, mereka hanya hadir dalam mimpi-mimpi kita.

Tidak sedikit diantara mereka hidup kaya raya, hidup dari banyaknya para penderma yang memberikan jutaan harta mereka dengan “bayangan” mendapat surga, atau dari bayaran para “fans” yang tergila-gila.

Untuk mendukung semua peran “drama”, mereka perlu dukungan “logistik” besar, dukungan “manajemen” , dan tak lupa seorang “manager” untuk mengatur waktu “tayang” mereka. Dengan alasan tugas suci “Agama”, dikumpulkan dana dan dikembangkan “korporasi usaha” agar banyak yang terlibat  “bekerja”. Sebuah kombinasi terindah dalam meramu “agama” dengan syahwat harta.

Seorang guru saya, dulu pernah berkata: para mubaligh sebenarnya adalah dokter agama, dan harta adalah penyakitnya. Sekarang, kalau para da’i mengumpulkan segala macam penyakit bagi diri mereka, bagaimana ia dapat menyembuhkan pasiennya?

Salam Perjuangan, Bdg @Agustus 2009

Ama Salman al-Banjari

Iklan