Hentikan Khutbah-khutbah yang Palsu

Posted on Updated on

Aa JimmyBerita empat tahun lalu : Di balik retorika yang konyol, menggebu, dan penuh dengan anekdot itu; saya menemukan sosok yang mewah. Di sakunya ada dua handphone dari merk yang kerapkali mendapat julukan HP sejuta ummat. Sisirannya rapi dengan busana tampak bersih dan mahal. Ruangan seminar itu seperti menunggu sihir kata-katanya, yang selalu membawa firman Tuhan sambil memberikan informasi tentang dirinya, sekali lagi tentang dirinya bukan tentang Tuhan! Diri yang sibuk kesana-kemari, tampil untuk perhelatan di rumah pejabat hingga harus siaga di depan kamera televisi.

Ia adalah rohaniawan muda yang sedang memiliki karir menanjak. Jam terbangnya tinggi dan itu sebabnya penghasilannya lumayan besar: pernah dibilang sekali tampil, paling sedikit orang harus bayar Rp5 juta, hanya untuk beberapa menit sekedar mendengar ocehan ringannya.

Dakwahnya riang, konyol, dan tak segan-segan membawa bahasa gaul anak muda. Ia adalah rohaniawan yang mewakili sebuah generasi baru. Da’i; tampan, fasih baca Qur’an, dan selalu mendorong seseorang untuk bisa beradaptasi dengan keadaan.

Julukannya sudah selebritis. Mereka adalah lapisan kelas sosial yang dibesarkan dam tumbuh dalam asuhan media. Di televisi, paras mubaligh yang bersih dan rapi ini seolah ingin memberi petunjuk tentang bagaimana agama itu diperankan.

Aa ‘Gym adalah meteor yang berusaha memugar kembali karakter seorang mubaligh; santun, kaya, dan memikat. Dimulainya khutbah dengan kata-kata yang mengalir sejuk kemudian diimbuhi dengan anjuran untuk memperbaiki diri sendiri. Aa ‘Gym berusaha untuk mengembalikan ajaran agama pada kesempurnaan diri dengan selalu melihat kenyataan sosial yang buram dengan rasa optimis. Hingga dirinya sempat terjerembab dalam iklan kenaikan BBM yang memicu serangkaian protes, dan kedua kalinya terjatuh dalam perkara “poligami aneh”, aneh karena membuat sejumlah pengikut-yang sebagian besar ibu-ibu melancarkan protes .

Tapi Aa ‘Gym tidak sendirian karena banyak mubaligh yang kemudian berusaha untuk memakai modelnya sebagai pendekatan pada ummat. Menempa pribadi yang bertakwa memang kemudian menjadi topik yang diulas dan dibaca ulang dengan ragam bahasa agama yang berbeda-beda. Di tangan  para mubaligh yang ‘lincah dan santun’ ini, Islam kemudian menemukan makna yang damai tapi juga dingin.

Damai karena agama menawarkan anjuran yang sederhana dan ringkas. Tesis Aa ‘Gym selalu bermula dari hari; tempalah hatimu untuk tetap bersih lewat serangkaian perilaku mulia. Alur logika kebajikan yang kemudian jadi garis umum dakwahnya selalu diawali dengan perbaikan diri sendiri. Walau keberadaan dakwahnya muncul di tengah membaranya konflik etnis, tapi Aa ‘Gym tetap saja bertahan pada ‘perbaikan dan kebersihan’ hati.

Memang sangat sedikit kutipan ayat yang mahir dilantunkan oleh Aa ‘Gym, tapi karena itulah maka anjuran agama yang dibawakannya jadi mudah diterima segala kalangan. Geleuh? Mudah diterima ini dalam artian, anjurannya gampang dipahami dan tidak melulu hanya berputar-putar pada kaum muslimin. Tapi anjuran itu menjadi tampak dingin karena dakwahnya kemudian tidak mampu menyapa arus keresahan sosial ummat. Perbaikan hati mungkin bisa dikerjakan melalui tindakan-tindakan sederhana, tapi tampaknya tindakan itu tidak kemudian bisa memperbaiki situasi sosial yang runyam.

Kita sering tak habis pikir, bagaimana sosok yang dikenal taat beribadah dan juga sering berbincang tentang agama, akan tetapi kemudian melakukan tindakan keji. Ada yang melakukan korupsi hingga melahirkan kebijakan yang kejam. Semangat…!

SEMANGAT & SHALAWAT

Ama Salman @2009

Iklan

One thought on “Hentikan Khutbah-khutbah yang Palsu

    pak haji said:
    7 Oktober 2009 pukul 10:50

    Salam Pak Sufi,

    Mengapakah seorang da’ie sering melakukan sperti itu ya? seharusnya apa yg ada dihati semestinya sama dgn perlakuan dan tindakan. Strategi menjual agama untuk mewujudkan ketidakadilan sosial itulah yang membuatkan seseorang itu menjerumuskan dirinya ke arah kemunafikan.Mari kita doakan agar insan ini benar-benar mengeluarkan airmata taubat dan bukannya ‘tau buat’ saja.

Komentar ditutup.