Menanam Bibit Canda di Kepolisian

Posted on Updated on

Polisi 8Saya menemukan sebuah artikel satir yang lumayan cerdas. Silakan menikmatinya:

Ketika SBY menulis korupsi di atas air “Mari menanam, Indonesia,” itu kata Departemen Kehutanan. Lain halnya Departemen Ketuhanan, “Mari menanam kasih sayang.” Terus Kepolisian? “Mari menanam Bibit Candra,” ucap diri saya, untuk saya sendiri.

Terus? Saya berdoa di depan patung polantas, “Jadikan bibit canda ini sebuah pohon yang tinggi. Buahnya yang banyak banget ya Tuhan. Akarnya besar menghujam ke tanah. Sehingga tidak roboh kena angin. Hingga kelak—seperti halnya pohon mangga— tiap kali orang melempari pohon KPK, dibalasnya dengan berjatuhan buah mangga yang ranum harum dan mempesona.” Menulis korupsi, seperti membuat lukisan di atas air. Konon, ini obsesi sia-sia. Tapi menulis ‘korupsi’ di atas air dengan tinta cinta ‘kriminalisasi KPK’, Insya Allah sebuah pengembaraan pencarian srengenge kembar lelima. 

Di sini, ujung pena itu akan menjadi sungai ‘lir manis kalawan madu’ yang aliran tintanya menjadi sungai sunyi di beranda depan Istana Presiden. Jelang pesta politik 2009, lihatlah Aulia Pohan berwajah tak sumringah memasuki ruang sel tahanan dan dari istana presiden, cermati wajah teduh yang gelisah negarawan Susilo Bambang Yudoyono. Saat itu, langit Indonesiapun berpantun politik ‘berakit-rakit ke KPK, berenang-renang ke 2009’. Biarlah sang besan mengutipi airmata korupsi, toh di ujung panggung yang lain ada iklan kenegarawanan jelang pilpres 2009.

Lain lubuk, lain rasanya, lain presiden, beda pula gayanya. Bahkan tidak mustahil, dari ruang yang temaram, tak sedikit orang berparodi ‘ada apa di balik apa’ sambil saling awisik-winisik akeh bekti lulut, saling berbisik penuh rasa cinta bahwa:” We are all confined in our own skins.” Saat Kepolisian menenam bibit canda, adakah SBY menulis ‘korupsi’ di atas air? Tentu, tak jelas! Tapi paling tidak Jakarta mengisyaratkan bahwa ada suara sunyi yang lirih dari istana: ” Law is rule of moral action obliging to that which is right.” Dalam perspektif the democracy of silence, gaya SBY ini dimaknai sebagai aksi moral hukum yang reformis. Sumber Gaya Manusia yang mensinergikan Sumber Daya Manusia dengan kalkulasi linier politika. Orang arief menyebutnya sebagai partikel steril yang tidak bisa dikorup oleh apapun juga yang muncrat dari ruang kolbu yang istiqamah. Bisa jadi begitu, itu! Tak mustahil, ini sejenis the eloquency of silence hanya kefasihan dalam kebisuan belaka. Sesuatu yang gelap yang membuat manusia terperangkap dalam diam. Ketika diam, akan banyak percakapan yang bisa didengar. Dalam diam, suara risau akan mengalir hingga jauh. Hingga, kumpulan kalimat, pidato dan bebunyian saling-silang memosisikan diri sebagai parameter nilai langkah 2009-20014. Dan, dalam tahap inilah ‘korupsi’ yang ditulis di atas air itu bagaikan kolam kelam asketisme. “Kegembiraan dan kecemasan itu,”tulis Omar Khayyam,”bagaikan dua sisi dari kopeng uang yang sama. Anggur yang diminum hari ini adalah untuk merayakan mawar yang esok sudah layu.” Lelaku reformis KPK, kadang hembuskan angin ke arah tak terduga. Dulu, tentu saja ini hal yang aneh. Dulu, para penulis arief Indonesia, para pemikir sejarah kebudayaan kerap menuturkan bahwa hanya dari sebuah rumah yang ramah, sakinah, arah angin keadilan dapat dikendalikan. Tak sedikit petuah-petuah lama berujar Hands have no tears to flows.

Seorang presiden, raja, seniman, wartawan, kepala keluarga atau entah apa namanya, ketika ditangannya tergenggam kekuasaan amatlah arief manakala tidak memiliki airmata untuk dialirkan. Ini persis banget seperti dituturkan budaya tatar Sunda dalam naskah kuno “Sanghyang Siskanda ng Keresian” yang ditranskripsi Atja (1973). Di sini terdeskripsi perihal disiplin hukum bermula dari struktur sosial terkecil, yaitu rumah. “Anak bakti ti bapa, ewe bakti ti laki dst dst”. Bahklan dalam wacana lama Crebon terlukis indah hukum yang dimitoskan sebagai Sang Putri Guri Lawang. Dewi Justitia digambarkan sebagai Putri Guri Lawang yang tak pernah letih menari di lengkung langit keadilan. Dalam karya-karya klasik digambarkan bahwa lelaku urip yang memiliki komitmen disiplin tinggi hanya dimiliki oleh mereka yang selalu berada di balik pintu. Siapa dia? Putri Guri Lawang! Dalam kajian Jawa abad ke-15, ini dimaknai sebagai keterjagaan, kebaktian dan perjalanan sangkan oparaning dumadi. Artinya, kebaktian kepada sejatining kebenaran pada hakikatnya merupakan parameter aksi moral hukum. Menjadi penjaga hukum bukan hal yang fungsional tapi justru merupakan struktur atas partikel substansi dari kebaktian itu sendiri. Waktu demi waktu yang berdetak sejak tidur, terjaga hingga tidur lagi diformulasikan sebagai arena kebaktian untuk menegakan kebenaran. Artinya lagi, di sini, SBY adalah penjaga pintu hukum paling terdepan.

Saat Aulia Pohan tak ogah ditahan KPK juga saat SBY ekspresikan sebagai seorang negarawan di istana Negara pada hakikatnya adalah ritual kebaktian bersifat holistik. Tak jelas apakah SBY mencoba mendaur ulang ucapan Frans Kafka dalam ‘Der Propzess’ “Di muka hukum berdiri seorang penjaga pintu. Itulah diriku. Dan, saya hanyalah penjaga pintu terendah dan terdepan.

Sementara dari ruangan ke ruangan, berdiri penjaga-penjaga pintu lainnya. Yang satu selalu lebih kuat dari yang lainnya. Dan dalam tugasnya, ia tak dapat diubah pendiriannya baik lantaran belas kasihan, maupun disebabkan ia dicekam kemarahan.” Tak ayal, inilah yang disebut dengan transformasi struktur kultural. Simak Sir Henry Maine yang lahir di Leightan, England, 15 Agustus 1822, yang konon merupakan icon penting dalam mendeskripsikan hukum dan kesejarahan, konon sudahpun memprediksi di seputar transformasi struktur cultural ini. Sebuah pergerakan sejarah dalam mengubah suai dari “manusia status” menjadi “manusia kontrak” Dari perisirahatannya terakhirnya di Cannes, lihatlah Maine mengkritisi ‘manusia status’ yang adem ayem. Maine melukiskannya sebagai nomena status.

Perilaku politik cenderung statis, diam, dan membisu. Dan, baginya keajegan alam adalah norma-norma paling menemtramkan batin. Maka berbagai kebijakan lebih diarahkan kepada kondisi keajegan yang tertib, aman,dan teratur. Bumi boleh berputar tapi tidak bagi warna zaman. Peradaban bisa jadi mati suri. Tapi tak berarti kehidupan jadi berhenti. Dan, Dewi Justitia tertidur pulas. Keadilan memosisikan diri dalam status merdeka dalam ketidak-merdekaan. Padahal, realitas sosial setidaknya mengkhabarkan bahwa bumi tak pernah sepi dari pencarian nilai-nilai baru kualitas disiplin hukum. Maine dalam Ancient Law (1681) mendeskripsikan fenomena itu begitu signifikan, yang konon sering ditutur-ulang para pakar sosial budaya. “The movement of the progresive societies has hithero been a movement from status to contract” Menulis ‘korupsi’ di atas air, tentu ini hal yang sia-sia. SBY boleh jadi sedang mencari cahaya nurbuat pulung guna pulung sari. Tapi marilah mencari ‘hari kemarin’ sebagai cermin yang arif. Di sini, di cermin ini, ada politik ditulis dengan tinta cinta yang konon kerap kali melahirkan anak-anak aneh sejarah yang muram. Itu bukan jiwa manusia Jawa. Maka, amat arieflah ketika Seyyed Hossein Nasr pun menulis lirih:”Wahai atom-atom yang tersesat. Kembalilah kepada intimu. Dan jadilah cermin abadi, hingga kamu saksikan berkas cahaya yang tenggelam ke dalam kelam.” (Tandi Skobe)

Ama@2009