Rumahnya tak Seluas Hatinya

Posted on

Bandung – Menampung 54 orang anak telantar dan bayi korban perkosaan tidaklah mudah. Meski rumahnya tidak luas, namun berkat ketulusan dan keluasan hati, Endang Yuli Purwati mampu membesarkan mereka dengan mengandalkan gaji guru dan uang pensiunan suaminya.

“Rumah saya tidak besar, tidak perlu rumah besar untuk merawat mereka, yang diperlukan keluasan hati,” ujar Endang saat ditemui wartawan usai usai acara Peringatan Hari Ibu (PHI) ke-81 dan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) yang digelar Pemerintah Provinsi Jawa Barat di Pusdai, Selasa (22/12/2009).¬†
Namun dengan kerendahan hati, dirinya menampik bahwa yang membiayai semua anak-anak asuhnya adalah uangnya sendiri. “Bukan saya sendiri yang membiayai, teman-teman saya juga ikutan,” kata perempuan berusia 50 tahun ini.

Lebih lanjut Endang mengatakan, berawal saat dia mengajar di SKKP Negeri 1 Bandung, ada seorang anak yang tidak bisa ikut ujian karena belum bayar SPP, kemudian Endang merasa iba dan membantunya.

“Saya kasihan, kemudian saya dekati bagian keuangan. Saya bilang, potong saja gaji saya,” ujar wanita kelahiran Madiun 1 Juli 1959 ini.

Endang yang mengenyam pendidikan di IAIN Sunan Gunung Djati jurusan Pengajaran Agama Islam, kini susah mempunyai anak asuh yang telah mendapat gelar sarjana UIN jurusan tafsir Hadist.

“Saya hanya seorang guru, saya hanya berusaha memberi kehangatan, alhamdulillah sudah ada yang jadi sarjana di UIN Gunung Djati jurusan tafsir hadist,” tuturnya.

Saat ini yang berada di rumah Endang untuk usia di bawah 5 tahun ada 8 orang, dan untuk usia sekolah dasar ada 3 orang. Meski telah diasuh dan dianggap seperti anak sendiri, namun Endang memberi kesempatan kepada orang tuanya jika ingin mengambil kembali anaknya.

“Saya kembalikan kalau orang tuanya meminta, Allah saja maha pemaaf masa saya tidak. Mungkin sayap mereka tidak selebar sayap saya, tapi saya beri kesempatan, meskipun sulit untuk melepasnya,” ujarnya.

Tiga hal yang selalu diingat Endang hingga saat ini adalah amanat suaminya. “Saat Azam, anak pertama yang kami asuh, suami saya membolehkan tapi ada tiga hal yang akan selalu saya ingat, yaitu tidak boleh mengeluh, tidak boleh minta sumbangan, dan harus adil antara anak kandung dan anak asuk,” ungkap ibu dari 4 anak ini.
(avi/ern)

ref : Detik bandung 24 12 2009

Iklan