Holocaust Dalam Pandangan Rahbar

Posted on Updated on

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatollah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei tahun 1379 dalam salah satu khotbah Jumatnya untuk pertama kalinya mengakui pandangan Roger Garaudy, ilmuwan dan sejarawan Perancis dan membela pentingnya kebebasan ilmuwan Barat untuk menyampaikan pandangannya mengenai penulisan sejarah zionis.

Di bagian dari khotbah Jumatnya 23 Ordibhesht 1379 (12 Mei 2000) Ayatollah Sayyid Ali Khamenei mengatakan, “Bila ada orang yang berbicara anti-Zionis seperti warga Perancis itu (Roger Garaudy) yang menulis beberapa jilid buku anti-Zionis dan mengatakan, tidak benar apa yang dikatakan tentang pembakaran orang-orang Yahudi dalam tungku perapian, mereka akan bersikap beda dengannya! Bila ada orang independen dan tidak bergabung dengan para penanam modal dan pusat-pusat kekuatan pemodal, maka ia tidak boleh berbicara dan ucapannya tidak akan sampai kepada orang lain serta ia tidak punya kebebasan berekspresi!

Benar, para pemilik modal bebas dengan memanfaatkan koran, radio dan televisi milik mereka untuk berbicara apa saja yang mereka inginkan! Kebebasan seperti ini sangat tidak benilai. Kebebasan yang semacam ini malah anti-nilai. Mereka menyeret masyarakat melakukan tindakan amoral dan menjerumuskan mereka ke jurang anti-keimanan. Kapan saja diinginkan, mereka menggelar perang dan saat dibutuhkan mereka memaksakan perdamaian. Kepada siapa saja yang diinginkan mereka menjual senjatanya. Apakah ini yang disebut kebebasan?

Ayatollah Sayyid Ali Khamenei saat acara pembukaan Konferensi Pertama Solidaritas untuk Rakyat Palestina di Tehran tanggal 4 Ordibehesht 1380 (24 April 2001) mengatakan, “Pendudukan tanah air ini berdasarkan skenario multi dimensi, kompleks dan dengan tujuan mencegah terciptanya persatuan dan solidaritas uamt Islam serta menghalangi terbentuknya pemerintah muslim yang kuat. Kami memiliki banyak bukti yang menunjukkan Zionis Internasional punya hubungan dekat dengan NAZI. Data yang terlalu dilebih-lebihkan soal pembantaian Yahudi dengan sendirinya menjadi alat untuk menarik belas kasih opini publik, sekaligus menjadi pendahuluan untuk menduduki Palestina dan menjustifikasi kejahatan Zionis. Bahkan ada banyak bukti yang kami miliki menyingkap pengiriman para preman non-Yahudi Eropa timur ke Palestina agar dengan kamuflase dukungan terhadap keluarga para korban apartheid, mereka mampu mendirikan sebuah pemerintah anti-Islam di jantung dunia Islam dan untuk pertama kalinya pasca 13 abad, terciptalah friksi antara timur dan barat Islam.”

Begitu juga pada 18 Bahman 1384 (7 Februari 2006), Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar Ayatollah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei secara transparan menyebut holocaut sebagai mitos dan mengatakan, “Kebebasan berekspresi yang dielu-elukan mereka membuat mereka tidak mengizinkan satu orang pun meragukan masalah mitor pembantaian orang-orang Yahudi yang disebut holocaust. Sekaitan dengan masalah ini, tidak ada yang namanya kebebasan berekspresi! Di negara-negara Eropa, banyak ilmuwan, peneliti, sejarawan, wartawan dan lain-lainnya tidak berani menyatakan keraguannya terkait masalah ini. Padahal sebagian dari mereka meyakini bahwa masalah ini bohong semata, namun tidak berani untuk mengungkapkannya. Karena mereka tahu siapa saja yang berani berbicara tentang masalah ini bakal dihukum berat, dipenjara, diburu dan akhirnya dibatasi hak-haknya.

Terakhir, pada tanggal 8 Dey 1385 (29 Desember 2006) dalam pesan haji beliau mengkritik keras standar ganda Barat terkait kebebasan berekspresi. Beliau menulis, “Dukungan para penista kesucian Islam dan bahkan kebohongan dan penghinaan transparan para pejabat tinggi Barat, termasuk Paus terhadap agama ilahi ini dan begitu pula menilai penelitian dan keraguan tentang holocaust dan keberadaan Zionis Israel sebagai kejahatan.[SL]

Ama @Irib 21 03 10