“Need For Speed”

Posted on Updated on

Sejak memasuki usia 40 tahun, saya bertekad melakukan beberapa hal baru. Salah satunya adalah berolahraga demi memperkuat jantung dan mengusir lemak yang menumpuk di area perut. Untuk itu, adik saya menyarankan saya membeli alat olahraga, sebuah treadmill dengan perangkat penunjangnya seperti sepatu khusus running, kaos khusus running dan sebagainya.
Setelah membayarnya dengan kartu kredit agar bisa mencicil, alat yang lumayan berat itu dua hari kemudian diantar ke rumah. benda elektrik itu sangat canggih karena dilengkapi dengan monitor yang bisa menampilkan angka-angka kalori yang terbakar dan detak jantung, juga tersedia tombol-tombol angka speed dan durasi dan timer.

Cara pengggunaan dan pedoman penggunaannya termuat lengkap dalam buku manual yang tertulis dalam aneka bahasa mayor di dunia. Di dalamnya ada kategorisasi usia dan batas serta jarak waktu penggunaan agar alat ini benar-benar efektif membakar lemak dan menguatkan jantung. Saya pun mulai rajin running meski napas megap-megap. Maklum, bayangan tagihan per bulannya memotivasi saya untuk memanfaatkannya. Puji Tuhan, speed running saya hari demi hari mulai meningkat.

Yang menarik bukanlah alat itu, namun filosofi di baliknya. Treadmill adalah produk atau akibat dari dominasi paradigma ‘kecepatan ladalah yang terpenting’.

Ternyata di zaman ini manusia yang ingin serba cepat dan instan mulai dari makan cepat saji (fast food) dan mie instan sampai tidur cepat dengan cara mengonsumsi pil penidur. Tidak hanya itu, manusia sekarang lebih mementingkan kecepatan lebih dari tujuan di baliknya. Tidak semua orang yang negbut di jalan saat mengendarai mobil atau motor hendak melakukan sesuatu yang mendesak di tempat tujuan. Kadang hanya menginginkan kecepatan, bahkan menikmatinya, malahan tidak bisa melakukannya tanpa ngebut.

Karena ingin cepat langsing dan bugar tanpa harus menghirup udara kota yang padat racun asap dan debu, manusia modern dimanjakan oleh treadmill. Karena tidak betah dengan berlama-lama di dapur, manuia disuguhi fast food. Bahkan karena ingin mendapat kepuasan biologis, manusia modern diberi simulasi seksual dan alat bantu. Wow!!

Manusia dulu lebih mengutamakan seni bekerja keras dan nikmatnya hasil sebuah perjuangan yang memakan waktu, tenaga dan pikiran. Mau makan, ia harus memetik sayur dan menanak lauk dalam rangakain proses pengadaan yang masanya tidak sebanding dengan masa makan itu sendiri. Umumnya manusia pra modern lebih mengutamakan kehati-hatian dan kelembutan ketimbang kecepatan.

Ada dua titik ekstrem yang berkembang menjadi dua cara pandang di tengah masyarakat, yaitu ‘ketekunan’ demi menghasilkan kualitas dan ‘kecepatan’ demi mencapai kuantitas. Mestinya kedua hal tersebut tidak didikotomikan karena cepat dan lamabat memiliki kondisi dan subjek serta kasus yang berbeda. Ada kalanya seseorang mesti bersikap tenang dan menjadi low profile, namun sering pula ia harus segera berinisiatif dan bertindak cepat. Cepat dan lambat (tenang) menjadi baik bila sama-sama menghasilkan produktivitas.

Banyak teks suci dalam al-Quran dan Hadis yang memuat anjuran bersikap tenang dan mendahulukan ‘asas praduga tak bersalah’ seperti perintah untuk tidak menggunakan semata-mata dugaan sebagai dasar untuk bertindak, menghakimi, dan larangan untuk berprasangka buruk dan menjadikan rupa dan raga sebagai dasar penilaian dan sebagainya.

Di samping itu tidak sedikit teks suci dalam al-Qur’an dan Hadis yang menganjurkan kita untuk bertindak cepat. Bertindak cepat menjadi kewajiban dalam kasus-kasus darurat dan tidak bisa dirundingkan apalagi harus mengikuti prosedur administrasi yang mengular.

Allah mewajibkan kita untuk bertindak cepat dengan menengadahkan tangan memohon ampunan saat sadar telah melakukan pelanggaran hukum dan moral. Ia berfirman, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (QS. Ali Imran: 133).

Ini adalah undangan dari atasan yang tidak boleh ditunda-tunda. Bersikap tenang apalagi malas-malasan bisa dianggap sebagai sikap kurang ajar dan tidak menghargai bingkisan sorga.

Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. al-Baqarah: 148)

Tidak hanya diperintahkan untuk tidak menunda, namun juga manusia diperintahkan untuk tidak berjalan menuju Allah, yang dihadirkan dalam bentuk agama dan aturanNya, dengan berlari. “Maka larilah kepada Allah.” (QS. adz-Dzariyat: 50).

Bila dirasa ada beban psikologis atau hambatan, Allah swt memerintahkan kita untuk mengabaikannya. Ringan maupun berat tidak boleh dijadikan sebagai dasar alasan untuk tidak memenuhi panggilan dan perintahnya. “Berangkatlah kamu , baik dalam keadaan ringan ataupun berat dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah . Yang sedemikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (QS. At-Taubah: 42-38).

Dengan demikian, kita mesti memahami bahwa kita juga memerlukan kecepatan, selain kecermatan dan ketepatan. Manusia muslim yang dinamis yang pantang tertinggal oleh lainnya memang “need for speed”

Ama @Muhsin Labib’s Note

Iklan