Alangkah Lucunya Negeri Ini

Posted on Updated on

alangkah lucunya negeri ini adalah film yang saya tonton kemarin di pekanbaru. sejak naga bonar jadi 2, film alangkah lucunya negeri ini merupakan film nasional yang saya tonton di bioskop.

deddy mizwar, sang sutradara menyebutkan bahwa film ini sebagai refleksi sosial untuk bisa menertawakan diri sendiri tanpa menuduh orang lain. dan saya sangat setuju dengan itu.

saya tak perlu ungkapkan sinopsisnya karena sampean dapat membacanya disini. saya hanya ingin katakan bahwa menonton film ini rasanya seperti menyaksikan kehidupan sehari-hari yang ditransmisikan ke bentuk media lain. bedanya, jika dalam kehidupan nyata barangkali saya tak dapat terang-terangan tertawa. apalagi secara jelas menangis menyaksikan keadaan disekitar. namun ketika menonton film ini, saya benar-benar tertawa sekaligus meneteskan air mata.

saya tertawa bukan hanya disebabkan oleh hebatnya aksi para pemain film dan bagusnya dialog, melainkan juga begitu “lucunya” kenyataan dalam film itu. alangkah lucunya negeri ini, secara lugas menampilkan kehidupan jakarta secara nyata dan apa adanya. disamping juga menyentil carut marutnya kehidupan bermasyarakat dan bernegara indonesia.

film ini bercerita tentang bagaimana sulitnya mencari pekerjaan dan bersamaan iklan paranormal yang menawarkan perubahan nasib gencar di televisi. begitu pula kuis berhadiah yang jawabannya pun seakan sudah disodorkan namun pajaknya tetap ditanggung pemenang. gambar yang ditayangkan pun begitu kontras. diantara gedung-gedung pencakar langit itu, hanya dibatasi pagar dan jalan setapak, gubuk-gubuk liar dan perkampungan masyarakat kelas bawah dengan berbagai kehidupannya.

film alangkah lucunya negeri ini yang bercerita tentang muluk, sarjana manajemen yang kesulitan mencari pekerjaan yang akhirnya bersentuhan dengan pencopet dan permasalahannya. bersama syamsul, sarjana pendidikan yang juga masih menganggur dan menghabiskan waktunya di gardu hansip untuk bermain gaple dan juga pipit, suka mengikuti kuis berhadiah di televisi. muluk yang niat awalnya “menciptakan” kerja dengan menjadi konsultan pencopet dengan bagian 10%, akhirnya “terperosok” semakin jauh untuk menyadarkan dan mendorong para pencopet untuk dapat hidup lebih baik. para copet diajari membaca dan menulis oleh syamsul (asrul dahlan) dan mengaji oleh pipit (tika bravani).

film ini sungguh mengajak indonesia menertawakan “lucunya” ke-ironis-an diri sendiri. selain dari gambar-gambar yang ditayangkan juga dari dialog dan acting pemainnya. misalnya saja, ketika muluk mengatasi keengganan mereka belajar membaca dan menulis karena takut mengganggu kegiatan mencopet mereka. muluk mengatakan bahwa jika bisa membaca dan menulis tentu saja masih dapat mencopet namun bukan dari saku atau tas melainkan dari brankas. dan itu namanya bukan pencopet tetapi koruptor.

masih banyak kelucuan keironisan dalam alangkah lucunya negeri ini. tentang calon legislatif yang lebih suka menonton screensaver akuarium dan main pacman dari laptop seharga 15 juta rupiah. iklan paranormal yang menawarkan perubahan nasib. juga pajak hingga perilaku satpol pamong praja. semua itu tergambar dengan lugas dan sederhana meskipun tetap “lucu”.

lucunya negeri ini yang digambarkan film ini menyentil rasa sensitif keharuan hingga tak kuasa untuk tidak meneteskan airmata. sepanjang film yang lebih banyak tertawa ini, saya dua kali meneteskan airmata. tersentuh dan terhanyut. pertama, moment dimana pak rahmat (slamet raharjo) beristighfar kemudian beranjak ke mushola dan ditengah jalan bertemu pak makbul (deddy mizwar) hingga keduanya instropeksi diri dan berdoa memohon ampun kepada allah.

kedua, saat muluk (reza rahadian) ditangkap satpol pamong praja karena menolong beberapa mantan copet yang beralih profesi menjadi asongan. iringan lagu “tanah air” yang menjadi suara latar saat-saat histeria anak-anak asongan berteriak memanggil muluk yang digelandang dalam mobil satpon pp mengiris-iris rasa keadilan dan nasionalisme.

film alangkah lucunya negeri ini, saya rekomendasikan untuk sampean tonton. dijamin akan tertawa sekaligus menangis jika masih sampean masih memiliki rasa cinta indonesia.

judul film: alangkah lucunya (negeri ini)
sutradara: deddy mizwar
sutradara pendamping (co-director): aria kusumadewa
pemeran: reza rahadian, tika bravani, asrul dahlan, deddy mizwar, slamet raharjo, jaja miharja, tio pakusadewo, rina hassim

 

Iklan