Genit, Sengit dan Gesit

Posted on Updated on

Di tengah polarisasi dua kelompok dan kecenderungan itu, ada sebuah kelompok kritis yang menggabungkan rasionalitas dan teks. Mereka bukan jadi-jadian. Kelompok ini memiliki akar sejarah yang berpendar dalam filsafat, Kelompok ini muncul sebagai respon atas keberhasilan Imam Khomaini menumbangkan rezim monarki 2000 tahun Pahlevi dan makin kuat setelah kemunculan Mahmoud Ahmadinejad sebagai David di tengah angkara Goliath dunia tak pelak telah melambungkan popularitas mazhab Syiah dan diperlakukan sebagai jalan tengah yang membelah jalan Islam liberal (Islib) dan Islam literal (Islit).

Beberapa tahun lalu ia adalah santri di sebuah pesantren tradisional di daerah pesisir di Jawa Timur. Dalam bangunan sederhana di tengah desa yang tidak terlalu subur itu ia tidur di sebuah bangunan sangat sederhana bahkan kurang higienis, menurut standar pola hidup moderen. Ia dengan tekun mengikuti pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh sang guru yang mengajarkan sistem ‘muratan’, yaitu studi naskah kitab kuning yang diberi arti dalam bahasa Jawa, mulai dari level dasar dalam bidang gramatika, seperti alfiyah, balaghah dan fikih. Ia juga sangat kalem, bahkan nyaris ‘feminin’. Ia betah lama menimba ilmu agama berkat prinsip thuluz-zaman dan mengabdikan dirinya dalam melayani dan mengormati gurunya, bahkan di luar urusan belajar dengan harapan suatu saat akan menjadi kyai terpandang di kampungnya. Kini keadaan benar-benar berbalik.

Setelah mengikuti ujian persamaan dan menenteng ijazah SMA berkat modernisasi yang tak terbendung, ia seakan mengubur semua masa lalunya yang tradisional. Lebih dari itu, setelah berpindah ke ibukota dan menjadi mahasiswa, ia sibuk menenteng buku-buku karya pemikir Barat mulai dari Marx sampai Horkheimer, menghadiri seminar yang dihadiri oleh para narasumber asing, dan aktif dalam kelompok studi yang gemar mendiskusikan wacana-wacana modern, seperti pluralisme, lokasime Islam, feminisme dan segala pemikiran Islam yang anti-tradisonal dan kritis. Setelah menguasai bahasa Inggris dan mampu menulis artikel-artikel yang berisikan apresiasi terhadap pemikiran Barat tentang Islam, ia pun mendapatkan beasiswa studi di Barat dari lembaga-lembaga donor yang sangat berpengaruh.

Sepulang dari negeri bule, ia langsung didaulat untuk menjadi pengamat politik dan pakar keislaman. Lembaga-lembaga mentereng langsung melamarnya. Lembaga-lembaga studi menjadi terminalnya. Media-media massa menampung pandangan-pandangannya. Ia sudah bisa dianggap ‘mantan santri’. Ia lebih senang bila masa lalunya tidak diingat-ingat. Ia adalah pemegang gelar PhD dari sebuah universitas ternama di Amerika yang sudah menghabiskan banyak paspor karena menghadiri undangan seminar tentang Islam di Austalia, Eropa dan Amerika. Inilah contoh sebuah generasi Muslim yang jumlahnya sangat banyak.

Mereka tersebar di sebagian besar perguruan tinggi Islam negeri maupun swasta di Indonesia. Sebagian dari mereka mendapatkan scholarship di universitas-universitas ternama di Eropa, Amerika dan Kanada dan mengambil studi bidang politik berkat rekomendasi sejumlah LSM dan lembaga yang sangat concern terhadap isu-isu Islam kontemporer. Sebagian melanjutkan ke UIN Syarif Hidayatullah, IAIN Jogjakarta dan Surabaya sambil aktif menulis artikel di sejumlah suratkabar lokal. Umumnya mereka aktif dalam LSM dan lembaga-lambaga yang giat mengadakan workshop dan seminar tentang modernitas, pluralisme dan semacamnya. Sebagian besar dari mereka adalah PNS yang sibuk mengumpulkan KUM agar karir kedosenannya terus menanjak. Kebanyakan mereka adalah anak-anak muda yang cukup cerdas, terbuka, komunikatif, apresiatif terhadap pandangan di luar main stream dan ramah, meski tidak terlalu relijius (menurut standar normatif).

Beberapa tahun lalu ia hanyalah anak dalam keluarga yang tidak relijius bahkan cenderung ‘kejawen’ di kawasan yang disebut mataraman. Ayahnya yang pernah menjadi simpatisan PKI, meski tidak sempat di-pulau buruh-kan, tidak pernah mengajarinya ngaji al-Quran. Di rumahnya juga tidak ada kaligrafi-kaligrafi ayat al-Quran. Shalat dan kegiatan keagamaan tidak pernah menjadi sesuatu yang sangat diwajibkan pada masa kanak dan remajanya. Gaya hidupnya jauh dari relijiusitas. Ia bahkan sempat pacaran dan tidak jejaka lagi. Setelah lulus SMA, ia dinyatakan lulus seleksi UMPTN dan menjadi mahasiswa fakultas teknik di sebuah perguruan tinggi tekenal di sebuah kota besar. Ia mengikuti opspek dan ditatar oleh sekelompok mahasiswa senior yang memiliki kemampuan mengubah orientasi keagamaan maba (mahasiswa baru) ini.

Usai mengikuti opspek, ia ‘dibina’ dan terus ‘digarap’ dan dimasukkan dalam kelompok mahasiswa Islam yang cenderung tekstual. Sejak saat itu ia mulai tahu pentingnya shalat dan menjalani Islam sebagai sistem hidup. Kini ia mulai belajar mengaji, bahkan menganggap belajar bahasa Arab sebagai sebuah ketataan. Ia mulai merawat jenggot dan melipat bagian bawah celana sambil membawa al-Qur’an terjemah yang telah diberi tanda-tanda pada halaman-halaman tertentu karena memuat ayat-ayat ‘tegas’ soal jihad, penegakan ‘hukum Allah’, serta amar makruf dan nahi mungkar. Buku-buku favoritnya adalah karya-karya tokoh-tokoh Islam fundamentalis, seperti Hasan al-Banna danb Sa’id Hawwa, juga kitab-klitab fikih ‘kaku’ karya Muhammad bin Abdul-Wahab dan Abdul-Aziz bin Baz. Ia cukup cerdas sehingga diberi beasiswa oleh negara untuk melanjutkan studi S2 dan S3 di Jerman.

Di negeri Hitler itu ia tetap bersemangat dengan brotherhoodnya dengan aktif dalam jaringan ‘Islam literal’ dan seiring dengan intensitas komitmennya, ia pun menjadi tokoh penting dalam hirarki kelompoknya. Sepulang dari negeri itu, ia makin fundamentalis dan makin membenci Barat. Ia kini menjadi salah satu pakar dalam sebuah departemen dan dosen di almamaternya. Pakar metalorgi ini juga aktif dalam penggalangan politik yang menuntut dikembalikannya khilafah ala Otoman di Indonesia, bahkan seluruh dunia. Ia tidak gemar berwacana atau berdiskusi apalagi ngobrol di café.

Inilah contoh dari tipe kedua generasi muda Muslim di Indonesia yang jumlahnya makin banyak. Sebagian dari mereka mulai berpikir realistis dengan memperjuangkan visi keislamannya dalam sebuah organisasi politik formal. Sebagian lain memperjuangkan idealisme melalui organisasi non partai yang menuntut pendirian khilafah di Tanah Air dan seluruh dunia. Ada pula yang aktif dalam organisasi non formal, karena menganggap sistem Negara tidak Islami karena tidak menjalakan hukum Allah, dan karenanya pendirian orpol maupun ormas sama dengan mengakui sistem yang tidak Islami.

Hadirnya kelompok yang dikenal dengan penganut Islam liberal dan semaraknya kelompok Islam literal tidak bisa sepenuhnya dipandang sebagai sebuah fenomena khas Indonesia.

Tidaklah berlebihan bila kedua model itu dikaitkan dengan dengan kepentingan hegemoni Barat untuk mengikis militansi di dunia Islam. Di tengah polarisasi dua kelompok dan kecenderungan itu, ada sebuah kelompok kritis yang menggabungkan rasionalitas dan teks. Mereka bukan jadi-jadian.

Tulisan diatas adalah prolog sebuah novel diskursus yang sedang saya garap dibantu beberapa teman.

Mohon doa… (Muhsin Labib’s Note)