Polri, Susno & Kidung Baghawatgita

Posted on Updated on

Polisi ‘diacak-acak’. Bukan orang lain yang melakukan, tetapi personel sendiri. Susno Duadji diindikasikan berbuat itu. Dalihnya membersihkan institusi ini dari tindak ‘kejahatan’. Dampaknya, pamor polisi semakin jeblok. Benar atau salah tetap dicibir dan dipersalahkan. Benarkah Susno bak Adipati Karna yang sedang ‘bertaruh nyawa’ melawan Arjuna? Siapakah gerangan tokoh yang menunggu kidung Baghawatgita untuk ‘membinasakan’ itu? 

Ulah Susno memang kontroversial. Institusinya itu ‘dihajar’ tanpa henti. Itu terjadi sejak dia ‘dinon-aktifkan’ dari jabatan Kabareskrim. Tampil dengan seragam polisi sebagai saksi ‘meringankan’ Antasari. Menuding tanpa tedeng aling-aling petinggi polisi makelar kasus (markus). Dan segala tindakan itu uniknya ‘hanya’ dilakukan melalui pesan singkat pada Kapolri.

Sebagai rakyat, terus terang kita terheran-heran melihat Susno tampil bersaksi dalam perkara Antasari. Betapa tidak. Berseragam lengkap dengan pangkat dan lencana Susno heroik membeberkan lika-liku di balik penyidikan mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu. Ini ironi. Sama dan sebanding dengan polisi ‘membuikan’ Antasari yang ‘diralat polisi’ sendiri agar tidak ‘dibui.’

Performa yang tak layak dan tak etis itu menurut Susno sudah seijin Kapolri. Ijin itu dikirim melalui pesan singkat. Namun di balik kesaksian ‘menjungkir-balikkan’ hukum itu implisit memberi pesan pada publik, bahwa petinggi polisi sudah tidak punya ‘kekuasaan’ lagi dalam institusinya. Juga terkesan Kapolri tidak mampu mengendalikan anakbuahnya.

Memang setumpuk kontoversi itu banyak yang membuahkan kebenaran. Teriakan Susno berhasil menguak jalinan markus yang sudah lama terbaui. Oknum polisi dan aparat pajak kemudian menjadi tersangka. Juga hakim dan jaksa. Para penegak hukum itu terbukti telah ‘memainkan’ hukum bersama markus profesional demi memperkaya diri sendiri.

Jalinan kisah yang dirangkai Susno itu mirip cerita Adipati Karna atau Basukarna dalam pewayangan. Mereka yang terlibat dalam perkara ini persis epik itu. Susno ‘tersakiti’ saat ‘dibuang’ dari jabatan Kabareskrim identifikasi Adipati Karna yang tidak diakui anak oleh Dewi Kunti. Dia hidup terlunta-lunta dan terpaksa menjadi sais kuda sebelum derajatnya diangkat Kurawa.

Ekspresi hati terluka itu diluapkan dengan membuka seluruh borok yang ada dalam institusinya. Dia bak babi buta. Lupa asal dan tempat pengabdian. Lupa jalan yang pernah ditapaki. Dan alpa berhitung konsekuensi logis dari perbuatan ‘merendahkan’ korp dan atasannya itu.

Saat-saat ‘kemarahan’ itu menggelegak, seperti Adipati Karna di penghujung perang antar-keluarga Bharata yang menolak ajakan Kresna berpihak Pandawa. Dia juga sampai mati rasa, tidak tersentuh isak tangis ibundanya yang meminta agar perang melawan Arjuna, saudaranya dihindari. Ini tragedi memilukan yang sulit dipilah salah dan benarnya.

Kendati ending cerita Pandawa sebagai pemenang, tapi tumbal tidak terhindari. Nyawa Gatotkaca dikorbankan menguras kesaktian Adipati Karna. Dan Kresna sebagai titisan Wisnu terpaksa mewejangkan kidung Baghawatgita. Kidung mistis perangsang nafsu, agar Arjuna tega membunuh sang kakak yang berpihak pada lawan.

Sekarang, di tengah ambruknya ‘harga diri’ polisi, terjungkalnya petinggi Polri sebagai tersangka, dan Susno yang terus ‘digiring’ menuju lubang yang sama, adakah masih mungkin terbukanya porgatorio untuk mengubah inverno polisi dan Susno menjadi paradiso?

Rasanya pintu ‘pertobatan’ masih tersedia. Kapolri mengungkap itu. Dia dengan arif menyebut Susno aset Polri. Dan itu satu-satunya jalan damai, kendati tidak serta-merta berkemampuan menghapus aib yang sudah ditebar. Itukah jawaban terhadap sikap Susno yang ‘jinak’ akhir-akhir ini?

Diolah ulang dr kolom Djoko Suud, nuhun pakde..!

Iklan