Motif di Balik Lawatan Obama ke Asia

Posted on Updated on

Kekalahan Partai Demokrat dari rivalnya Partai Republik pada pemilihan umum sela tingkat majelis rendah Selasa lalu (2/11), turut mempengaruhi lawatan Presiden Amerika Serikat ke Asia. Obama Jumat (5/11) bertolak dari Washington untuk melakukan lawatan resminya mengunjungi India, Indonesia, Korea Selatan dan Jepang selama 10 hari.

Setelah mengetahui hasil final pemilu sela, Obama menyadari bahwa masalah ekonomi menjadi pusat perhatian masyarakat AS. Obama menyatakan, warga AS lebih mementingkan tingkat kesejahteraan ekonomi dan lapangan kerja, dari pada reformasi sistem kesehatan di Negeri Paman Sam ini.

Hingga kini, ekonomi AS belum keluar dari pusaran krisis. Selama dua tahun terakhir saja, sebanyak 283 bank di negara ini gulung tikar. Dengan demikian, lawatan Obama ke empat negara Asia tentu saja akan membawa misi ekonomi, terutama kemudahan bagi AS menguasai pasar terbesar di Asia itu.

Sebelumnya, Obama dalam kompetisi pemilu yang dimenangkan Partai Demokrat lalu berkomitmen akan memberikan potongan pajak bagi perusahaan AS yang aktif di pasar-pasar dunia.

Obama optimis lawatannya ke Asia bisa menebus kekalahannya dalam pemilu sela dengan mengaktifkan kembali kebijakan luar negeri melalui diplomasinya. Lawatan ini diharapkan menjadi sarana untuk meningkatkan pengaruh lebih besar bagi AS di arena ekonomi Asia. Obama berharap capaian ekonomis lawatannya ke Asia mampu mendongkrak kepercayaan warga Amerika terhadap kebijakan Gedung Putih.

Obama berharap lawatannya ke India akan membuahkan oleh-oleh penandatanganan sejumlah kontrak bisnis yang menguntungkan AS. Salah satunya adalah kontrak penjualan puluhan pesawat boeing C-17s senilai $5,8 milyar. Angka ini akan mendongkrak lapangan kerja di AS, sekaligus menjaga kelangsungan industri dirgantara negara ini.

Obama dalam lawatannya ke Indonesia, Korea Selatan dan Jepang berupaya meningkatkan posisi investor AS di pasar besar ekonomi Asia ini melebihi sebelumnya. Bahkan Obama akan membawa misi ekonomi dalam sejumlah pertemuan penting Asia di antaranya KTT G-20 dan KTT kerjasama ekonomi Asia Pasifik (APEC).

Obama berupaya menebus kurangnya kepedulian jawatan diplomasi pendahulunya, mantan presiden George W. Bush terhadap negara-negara di kawasan ini. Bush memusatkan perhatian diplomasinya di Timur Tengah. Tentu saja, kekosongan ini dimanfaatkan dengan baik oleh rival AS yaitu Cina dan Rusia dengan meningkatkan pengaruh ekonominya di pasar-pasar Semenanjung Korea, Asia Timur, Afrika dan Amerika Selatan.

Dalam kondisi yang sulit seperti sekarang ini, ketika Timur Tengah masih disibukkan dengan perang Afghanistan dan Irak, Obama harus mengerahkan diplomasi pemerintahannya di berbagai penjuru dunia untuk menyaingi ekonomi negara-negara besar seperti Cina dan Rusia. Obama tahu, jika lawatan periodiknya ke Asia gagal membuahkan capaian ekonomi signifikan bagi ekonomi AS, maka Republik akan menguasai mayoritas kursi di DPR AS. (IRIB/PH).