Presiden dg Kapasitas Camat atau Camat dg Kapasitas Presiden?

Posted on Updated on

Kira-kira tiga pekan lalu saya diundang oleh Fisip Unpad sebagai salah satu narasumber seminar tentang Sistem Pemerintahan Islam. Pembicara pertama adalah Musda Mulia, mewakili pandangan liberal yang sdh bisa dipastikan menolak adanya “Negara Islam” dan menganggap demokrasi sebagai pilihan paling manusiawi dan fair dan bla bla bla.

Tanpa bermaksud meremehkan, profesor yang jadi primadona kaum feminis ini tidak membawa sesuatu yang baru yang layak untuk diceritakan dalam note. Seperti umumnya orang-orang yang dianggap intelektual liberal ini dia terlihat asyik menjelaskan pandangan-pandangan para tokoh pemikir Islam yang mendukung ide penolakan agama sebagai sistem pengelolaan negara. Selebihnya dia banyak berbicara tentang tekanan2 yang diarahkan kepadanya oleh kelompok-kelompok pro “Negara Islam”.

Pembicara kedua adalah tokoh Hizbuttahrir (saya lupa namanya). Bisa diduga dia mewakili kelompok Islam yang menentang demokrasi bahkan menyerukan dibentuk sistem pemerintahan internasional dengan Khilafah. Seperti umumnya tokoh HT, dia terlihat sangat antusias untuk menjadikan seminar itu sebagai kesempatan “jualan” dan mengakhirinya dengan rekrutmen.

Maklum, di kampus sekuler, pandangan-pandangan Islam literal lebih mudah dijual dan diseruput secara mudah oleh mahasiswa-mahasiswa yang jauh dari aroma pondok dengan segala literatur klasiknya seperti nahwu, sharaf, dan lainnya. Jadi, pendukungnya sangat banyak. Konon yang merekayasa kuliah wajib ini adalah kader-kader mereka yang telah berhasil menjadi dosen.

Bila Musda Mulia hanya membagikan hard copy artikel lumayan tebal (yang sebagian tidak disinggungnya karena sangat mungkin itu adalah fotocopy dari makalah di seminar serupa sebelumnya), maka misionaris HT ini tidak hanya membagikan lembaran-lembaran artikel yang berisilkan ayat-ayat dan riwayat yg ditafsirkan sebagai dalil kuat bagi wajibnya mendirikan khilafah sebagai satu-satunya sistem yang dikehendali Tuhan, malah mempersiapkan power point beberapa page tentang sistem pemerintahan transnasional ini. Saya yang baru dihubungi oleh panitia beberapa hari sebelum acara tidak sanggup mempersiapkan makalah, pada mulanya rada grogi karena memang tidak senpat membekali diri.

Untung, saat pembicara pertama menyampailkan pandangannya, permohonan saya kepada moderator untuk menggeser giliran saya setelah pembicara kedua diloloskan. Setelah mendengar presentasi dua narasumber yang berbeda polar itu, saya akhirnya mendapatkan bahan untuk berbicara, meskipun saya tidak diposisikan sebagai pembanding karena memang sejak semula tidak didesain sebagai seminar panel yg dialogis.

Dari pandangan-pandangan narasumber liberal yang imut-imut dan narasumber literal yang amit-amit itulah, saya leluasa membuat joke-joke nyeletik yang secara psikologis menguntungkan bagi saya yang saat itu diminta berbicara tentang sistem pemerintahan Wilayatul Faqih.

Secara singkat saya katakan, bila membicara pertama mengutip buku-buku yang ditulis oleh para pendukung demokrasi dan menolak negara Islam dan pembicara kedua mengutip penggalan-penggalan dari manuskrip dan kitab-kitab ulama yang mendukung sistem pemerintahan seperti Almawardi, Alzamakhsyari dan lainnya, maka saya hanya menggunakan satu sumber, yaitu google. Sistem pemerintahan yang saya paparkan adalah objek real yang bisa diverifikasi secara empiris, yaitu Iran.

Hadirin terutama mbak moderator dan beberapa gurubesar sempat terpingkal-pingkal di sela-sela tepuk tangan membahana. Karena dua pembicara sebelumnya tampil formal juga berpenampilan rapi, saya secara alamiah terlihat dekil, selenge’an dan gaul. Tapi, rupanya itu jadi pesona yang tak terduga, kata Bukhari, teman yang hadir dalam acara itu. Tema ini mungkin menjemukan bila semuanya dijelaskan dalam note ini, apalagi saya menulis dg keypad hp yang mungil abis. Tapi salah satu palu godam yang sempat saya hantamkan adalah tanggapan saya terhadap Faris Wajdi (sekarang saya baru ingat nama tokoh HT itu). Dia menjadikan riwayat “ikutilah sunnahku (Nabi) dan sunnah para Khulafa’ur-rasyidin (khalifah-khalifah yang lempeng) setelahku. “Bapak-bapak, riwayat yang disampaikan Mas Farid” layak diperhatikan tapi tidak layak dilaksanakan,” kataku santai. Suasana mendadak tegang. Hadirin antara kaget dan penasaran. Betapa tidak? Riwayat tersebut hampir dianggap “sakti” dan aksiomatis.

Saya lanjutkan, “Riwayat tersebut hanya bisa ditafsirkan dengan dua asumsi: Pertama, para khalifah pasti memiliki kapasitas Nabi agar dapat menggantikannya dan agar sunnah mereka menjadi pelengkap sunnah beliau. Kedua, ternyata kapasitas Nabi itu sama dengan para sahabatnya. Hanya ada pilihan: level Nabi diturunkan agar sama dengan sahabat-sahabatnya yang menjadi khalifah, atau para sahabat yang menjadi khalifah itu dinaikkan levelnya setingkat Nabi agar sunnah mereka dapat berposisi sejajar dalam bobot dan konsekuensi ketaatannya. Inilah paradoks.”

Suasana seminar itu selanjutnya bisa anda bayangkan. Acara berakhir. Yang tak kalah menarik adalah jamuan makan siang dari friend Umar Alhabsyi dan Degooh Teguh di restoran Ampera. Bayangkan seharian usus dan babat saya mengalami gempa gara-gara sakau sambelnya yang tak alang kepalang melenakan padahal pedasnya setengah hidup. (Note yg ditulis secara serampangan midnight karena ga bisa tidur depan beranda rumah sorangan)

by Muhsin Labib on Sunday, November 14, 2010 at 2:47am

Iklan