Menangislah Untuk Guru

Posted on Updated on

Dalam kehidupan sehari-hari dengan sangat mudah kita jumpai pejabat berwibawa, pengusaha kaya raya, orang-orang cemerlang, atau gabungan semuanya. Kekaguman dan kebanggaan akan tertebar dalam sekejap karena memang secara sosiologis sandangan profesi tersebut adalah idaman alam bawah sadar banyak orang. Apalagi kalau Pak Pejabat, Om Pebisnis atau Tuan Dosen adalah orang yang dapat memberikan ‘sesuatu’, kebanggaan sosiologis.

Dalam kehidupan sehari-hari dengan sangat mudah kita jumpai, seorang guru, yang menurut gambaran memilukan berbaju safari tua kusam, bersepeda kumbang dengan kacamata tebal dan tas lusuh. Gambaran itu, terpopuler sebagai ‘Oemar Bakry’ adalah karikaturis berbau penghinaan terhadap profesi yang sangat mulia, guru, Si Pendidik. Sepanjang sejarah republik ini, citra guru adalah citra manusia yang terlantar dan ditelantarkan.

Guru adalah profesi yang tidak menjanjikan secara materialistis tetapi sangat diperlukan. Dalam kehidupan sehari-hari dengan sangat mudah kita jumpai pejabat, tenaga administratif atau birokrat pendidikan yang ‘kerjanya’ memudahkan pekerjaan profesional guru dalam menunjang peningkatan kualitas pendidikan, peningkatan sumberdaya manusia (SDM). Orang-orang yang bertugas ‘membantu’ pekerjaan guru.

Tapi, kita lebih sering mendengar dendangan nyanyian lagu-lagu indah meninabobokan guru, formal ataupun informal segenap komponen bangsa tercinta ini berkoor (seolah-olah) memperhatikan nasib guru. Dalam kehidupan sehari-hari dengan sangat mudah kita jumpai kesemua itu, ditabalkan pula dengan organisasi semacam PGRI, hasilnya hanya satu: Nasib guru tetap memprihatinkan. Pertanyaannya: lalu apa hasil kerja mereka yang langsung mampu memperbaiki nasib guru? Jawabnya sudah ada di pikiran Anda. Guru tetap saja dalam gambaran karikaturis ‘Oemar Bakry’.

Dalam kehidupan sehari-hari dengan sangat mudah kita jumpai guru yang kehidupannya begitu-begitu saja, dan … mereka masih saja menggantungkan nasibnya kepada mereka-mereka yang sebenarnya tidak pernah berhasil memperjuangkan nasib guru. Guru tetap saja mau dininabobokkan. Lalu, di mana letak kemampuan guru belajar dari kenyataan? Langkah nyata apa yang dilakukan guru dalam memperbaiki kedudukan dan nasibnya? Entahlah. Hanya para guru yang mampu menjawabnya.

‘Membantai’ Guru

Ketahuilah, keseluruhan pejabat, pebisnis, orang berpunya, mereka yang terhormat atau gila hormat, apalagi pengambil kebijakan tentang pendidikan, birokrat pendidikan, menjadi pandai atau bisa mencapai kedudukan sosial mapan, tidak terlepas dari jasa guru-gurunya. Dapat dipastikan, pejabat, pengusaha, birokrat pendidikan atau siapa saja yang bisa membaca, menulis, dan berhitung, menjadi pandai karena jasa guru. Gurulah yang menjadikan seseorang menjadi orang melek, mengembangkan potensi dirinya.

Cobalah renungkan untaian kata-kata saya berikut. Pernahkan Anda mendatangi guru SD Anda yang dengan segala ketabahan, ketekunan dan kesabaran menuntun mengeja huruf a, b, c dan seterusnya?. Memangnya Anda bisa lancar menghitung angka 1, 2, 3, 4 atau merangkai huruf-huruf jadi kata-kata, angka-angka berpangkat dan menghasilkan uang untuk kesuksesan tanpa bantuan guru? Pernahkah sowan ke Guru SD, SMP, SMU atau mengunjungi sekolah tempat pian dididik hingga jadi orang pintar? Anda tidak usah bercerita, membantu sekolah Anda dahulu, sebab kalau itu dilakukan semua orang, pastilah sekolah-sekolah kita menjadi tempat terbagus. Bukan tempat dimana bangunannya hampir roboh atau lingkungannya memprihatinkan dengan fasilitas, sarana dan prasarana, membuat air mata tidak ada artinya.

Banyak orang hanya mengambil dari guru dan sekolah, tidak kalau memberi. Bobroknya sarana dan prasarana pendidikan, dipastikan karena memang kita kurang peduli. Atau, coba renungkan, ketika seorang guru dengan kesederhanaan dan keluguan mengurus KTP atau keperluan lainnya, misalnya, Sampeyan bentak-bentak sembari meminta duit yang didapat dengan jerih payah mengajar yang sangat sedikit? Apakah Anda tidak akan dikutuk Allah SWT manakala tega-teganya meminta sejumlah uang dengan berbagai alasan ketika Sang Guru mengurus kenaikan pangkatnya? Sudah gajinya kecil, jangankan dipermudah, tetapi justeru harus ‘dijebak’ untuk membayar. Adakah kira-kira manusia yang lebih kejam dari itu? Kalau Sampeyan pernah melakukan hal-hal sedemikian, bertobatlah, sebelum Allah SWT mengambil nyawa Sampeyan.

Sekali lagi, coba renungkan, ketika sudah jadi orang, apakah bos tingkat rendah atau puncak, pegawai bank atau wartawan, birokrat pendidikan, tamatan SD atau S3, atau maling sekalipun, pernahkah mendatangi guru yang telah membuat pintar? Pernahkah mendatangi sekolah tempat belajar dulu yang mungkin kini sudah hampir roboh? Pernahkah membantu sekolah tersebut setelah hidup berkelayakan? Mungkin Sampeyan telah mencapai jenjang akademis tertinggi atau mempunyai rumah –-dua sampai empat— punya mobil, sering berseminar di hotel atau melakukan kunjungan kerja di banyak kesempatan, sementara orang yang membuat pintar masih terseok-seok mengajar anak-anak atau cucu Sampeyan, masih berkehidupan seperti ketika mendidik Sampeyan dulu, bersilaturrahmi dengan guru SD, SMP, SMU atau PT, tidak pernah membantu sekolah tempat belajar dulu, baik secara pribadi, apalagi ketika mempunyai kewenangan untuk berpihak kepada guru dan pendidikan, ketika Tuan punya kewenangan tetapi justeru mengambil keuntungan untuk menumpuk harta, maka jangan harap bangsa ini akan maju. Peningkatan SDM akan menjadi retorika belaka.

Lebih fatal, jangan-jangan kalau kita berprilaku sedemikian, sadar atau tidak, kita telah terjerembab menjadi manusia durhaka, manusia yang tidak tahu berterima kasih, manusia yang lupa kacang pada kulit. Lebih sadis, kalau kita mengabaikan guru, melecehkan ketika dia berurusan, meminta duit ketika dia mengurus haknya atau mencelakan profesinya dengan berbagai alasan, kita akan menjadi manusia terkutuk, manusia ‘pembantai’ guru. Naauzubillahi min zaliq.

Proyek Milyaran

Kebetulan, saya dipilih sebagai Ketua Komite di dua SD, SDN Jawa 2 Martapura dan SDN Sungai Besar 2 Banjarbaru. Di kedua sekolah tersebut, saya pernah didatangi orang tua siswa sembari bersemangat 45 memberi kuliah, “Pak Ersis, guru-guru kita ini bagaimana? Tiap semester, anak-anak kita disuruh membeli buku. Ini proyek guru. Tidak boleh dibiarkan” Mula-mula saya telan saja kuliah bagus tersebut. Setelah melakukan riset kecil-kecilan, memang ada guru yang menjual buku seharga Rp30.000,00 (tiga puluh ribu). Dan … mendapat komisi 10% alias Rp3.000,00 (tiga ribu rupiah) per buku. Dikalikan 30 siswa, guru mendapat keuntungan Rp90.000,00 per semester.

Uang sebegitu, memang bisa dibilang banyak bisa pula dibilang sedikit. Tapi, saya bilang, bagaimana kalau kita berjamaah saja menyumbang untuk guru anak-anak kita secara ikhlas Rp3.000,00 per semester, apa salahnya? Terlalu berlebihan menuduh guru korupsi atau menyalahgunakan kewenangan. Saya setuju itu tidak dibolehkan, tetapi harus ada solusinya. Toh, di toko buku harganya juga segitu. Memberi untung toko buku tidak keberatan, guru yang menjadikan anak sendiri pintar, ribut. Apa-apaan.Ketika saya katakan, “OK. Guru kita larang menjual buku, tapi … mari kita membelikan buku-buku pelajaran yang disimpan di pustaka hingga semua keperluan buku tersedia”. Ajaibnya, begitu gagasan itu diutarakan, tidak ada komentar lagi.

Lebih jauh, coba kita berpikir lebih rasional. Miliaran rupiah dianggarkan Depdiknas untuk penyediaan buku-buku pelajaran di sekolah. Pengusaha berebutan, birokrat pendidikan sibuk mengurusnya. Coba datangi sekolah-sekolah, dari miliaran rupiah proyek pencetakan buku tersebut, berapa biji sih yang ada di sekolah? Sangat sedikit. Kemana perginya? Mana saya tahu, emangnya gue ngurusin. Harusnya yang model begini yang dilawan, koran-koran ‘menghajar’ hingga yang menculasi pendidikan itu kapok. Setidaknya, dimengerti untuk apa dan siapa, atau kemana saja sih distribusi proyek miliaran rupiah tersebut. Guru-guru juga pada lucu dech, diam aja. Silent is golden, kali ya?

Menangislah untuk Guru

Mengakhiri artikel ini, suatu kali, seselesai sholat malam, cobalah luangkan waktu barang 10 menit untuk merenungi nasib guru, nasib pendidikan kita. Mana tahu, urat malu tersentuh, bahwa selama ini kita kurang peduli terhadap guru dan pendidikan. Kalau membeli rokok Rp7.000,00 per bungkus sehari, artinya sebulan Rp210.000,00 tidak keberatan, tapi kalau membayar iuran Komite Sekolah, Rp20.000,00 sebulan, untuk membantu pendidikan anak-anak kita, kita gusar. Alasan-alasan rasional dan bak pendekar Pedang Emas mengeluarkan statemen hebat-hebat di koran, di warung kopi atau meja seminar, sembari teriak nyaring-nyaring: ‘Pendidikan gratis’. Emangnya Tuhan menurunkan uang dari langit untuk membiayai pendidikan.

Kalau melihat kekurangan di sekolah berbagai sumpah serapah dimuntahkan. Komite Sekolah tidak becus, pemerintah pelit, tidak ada perhatian, pejabat mencuekkan pendidikan (walaupun ada benarnya), tapi mbok ya, kalau membeli empat ban mobil, anggap membeli lima, satu sumbangkan ke sekolah. Kalau Dewan Pendidikan mau melakukan kunjungan kerja, jangan mau ikut, biayanya sumbangkan ke sekolah.

Kalau Sampeyan Anggota Dewan atau Kepala Bagian atau Kepala Dinas, bilang sama pimpinan: “Pak tahun ini ditugaskan ke Jakarta 3 kali saja ya, yang sekali biayanya serahkan ke sekolah”. Kalau sebulan empat kali ke karaoke, ke salon atau main golf, ya apa salahnya kalau 3 kali saja, yang sekali sumbangkan ke sekolah. Nah, kalau saya, mungkin tidak bisa membantu guru secara materi hebat-hebat, tapi berdoa untuk pian Pak ai.

Saya menulis pertanda simpati, dan … Insya Allah akan terus berjuang untuk guru dan pendidikan sesuai kemampuan, ya menulis. Saat ini simpati saya hanya simpati tangis, maukah pian(Anda) menerima? Itulah sumbangan terlemah dari orang yang sangat sangat bersimpati.

Bagaimana menurut Sampeyan?

by Ersis Warmansyah Abbas

Iklan