Kemiskinan dan Pemiskinan

Posted on Updated on

Sore hari, udara Pasuruan sudah lebih ramah ketimbang beberapa jam sebelumnya. Warga kota santri itu gemar berjalan-jalan seraya menunggu azan Maghrib. Jalan padat, karena banyak pedagang kaki lima yang menggelar dagangannya. Ada beberapa becak yang berusaha melintasi jalan yang sempit itu. Sementara beberapa pasangan muda yang menyusuri jalan itu sesekali berhenti menawar barang. Di belakangnya, toko-toko juga berusaha menarik minat para pembeli.

Di antara pedagang di jalan yang padat itu, seorang wanita tua berkerudung menggelar plastik kecil berisikan jepit-korek gas, peniti, dan beberapa barang dagangan yang terlihat kuno dan tidak modern.

Aku tertegun melihat kegigihannya. Betapa ia yang semestinya bermain dengan cucu dan anak-anaknya di rumah, malah harus mengadu nasib menjual barang yang, mungkin dibeli bukan karena dibutuhkan, namun karena kasihan dan empati.

Aku merapatkan diri ke lapak itu. “Bu, mau tanya. Boleh kan?” sapaku lembut. Nenek itu mengangkat wajahnya dan memandangi wajahku sejenak seakan berusaha untuk mengingat-ingat.

“Oh, monggo ye,” jawabnya ramah. (‘ye’, adalah panggilan khusus untuk lelaki keturunan Arab di Jawa Timur).

“Maaf, bu! Mengapa ibu yang sudah tua masih berdagang, padahal jarang orang yang membeli karena dagangan ibu, maaf, kalah kualitasnya dengan barang-barang di toko yang dijual oleh wanita-wanita yang jauh lebih muda,” tanyaku dengan nada pelan.

Ia menyunggingkan senyum lalu menjawab, “Kulo dagang niki kerno kepingin oleh ganjaran kasab. Kasab niku ibadah (saya berdagang ini karena ingin mendapatkan pahala mencari rezeki dengan tangan sendiri. Inilah ibadah),” jawabnya lembut.

Saat kuberikan beberapa lembar uang sebagai penghargaan, wanita itu pun berkata, “Belilah daganganku, maka aku terima pemberianmu.” Aku pun mengambil peniti dan korek gas yang kuperlukan untuk membakar rokok.

Jingga di langit makin tipis tersaput gelap. Azan maghrib berkumandang. Aku bergerak dari situ. Nenek ‘luar biasa’ itu mengemasi dagangannya, membenahi kerudung kumal di kepalanya, lalu pergi.

Menurut tasawuf, rezeki adalah segala sesuatu yang berpengaruh positif terhadap peningkatan kehambaan. Ia bisa berbentuk kekayaan, kekuasaan dan ketenaran. Ia juga bisa berbentuk kebalikannya. Dengan kata lain, rezeki adalah sesuatu yang akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah. Setiap manusia akan diminta alasannya memilih menjadi kaya atau miskin, berkuasa dan dikuasai dan segala sesuatu yang kecil maupun yang besar. “Ia tidak akan meninggalkan yang kecil maupun besar melainkan menghitungnya.”

Rezeki dapat dibagi menjadi beberapa bagian sebagai berikut:

Pertama: Rezeki material. Ia adalah segala sesuatu yang dapat dinikmati oleh indera lahir, seperti alam jagat raya, hasil kekayaan alam, makanan, tumbuhan, hewan, harta kekayaan, anak, perhiasan dan lain-lain. Segala sesuatu yang kita peroleh dapat dibagi menjadi tiga: a) Halal, yaitu segala sesuatu yang diperoleh secara sah menurut agama; b) Haram, yaitu segala sesuatu yang dilarang oleh Allah. Kadang sesuatu disebut haram karena substansi bendanya, seperti minuman keras, dan kadang pula karena proses perolehannya, seperti uang yang dihasilkan dari korupsi; dan c) Syubhah, yaitu segala sesuatu yang tidak jelas kedudukannya halal dan haramnya, seperti hadiah kepada pejabat negara (gratifikasi);

Kedua; Rezeki spiritual. Ia adalah segala sesuatu yang dapat dinikmati dengan indera batin, yang mengakibatkan kebahagiaan abadi, seperti gugur di jalan Allah, ketenangan hati karena ketabahan dan tawakal serta ketakwaan; Ketiga; Rezeki paripurna. Ia meliputi segala sesuatu yang bisa dinikmati dengan indera lahir dan indera batin.

Kesungguhan mencari rezeki Allah adalah keharusan, bahkan bisa menjadi wajib apabila rezeki itu akan berguna bagi ibadah seorang hamba. Jaminan Allah atas rezeki manusia sama dengan jaminanNya bagi seekor hewan yang baru lahir dan membiarkannya hidup. Tiada seekor binatang melata pun di muka bumi ini, melainkan telah dijamin oleh Allah rezekinya.

Allah tidak akan memaksa manusia agar mendapatkan harta yang berlimpah-limpah. Manusia diberi kesempatan memenuhi kebutuhan hidupnya menurut kemampuan mereka masing masing. Yang diajarkan oleh Islam dalam masalah harta ialah agar manusia tidak bersikap berlebih-lebihan. Karena sikap ini akan membawa ketamakan. Sedangkan ketamakan akan menjurus kepada kerakusan dan aniaya. Sikap rakus dan aniaya itu akan membutakan mata hati manusia. Ia akan memandang semua harta orang sebagai hartanya, sedangkan hartanya hanya miliknya. Karena itu dengan tenang menggunakan surat dan kop departemen untuk menghimpun kekayaan publik lalau menari-nari di atas derita mereka seraya berharap tiada mata yang melihatnya. Ia lupa bahwa akhirat adalah sidang pengadilan paling ketat.

Ketika mencari rezeki dengan sungguh sungguh, mukmin sejati selalu memperhatikan pula cara ber-muamalah, sikap hati-hati, serta mampu membedakan antara harta yang halal dan yang haram. Rezeki berkaitan erat dengan persiapan manusia untuk berjumpa dengan Allah. “Berbekal-bekallah kamu, maka sebaik baik bekal adalah menunjukkan ketakwaan kepada Allah.

Bertakwa dengan harta adalah memberikannya kepada hamba Allah yang berhak menerima. Karena dalam harta setiap Muslim itu terkandung hak orang orang lemah. Allah berfirman, dan dalam harta-harta mereka, terdapat hak-hak orang yang meminta dan terlantar.

Lalu, bila rezeki telah ditentukan dan semuanya mendapatlan peluang yang sama, mengapa ada yang sangat miskin dan ada pula sangat kaya? “Itu karena ada hak orang lain yang diambil secara aniaya,” kata Ali bin Abi Thalib.

Mereka yang miskin karena dimiskinkan dan karena menjaga keseimbangan natural dan sosial, rela mengambil porsi lebih sedikit dengan kesadaran zuhud dan qana’ah tentu lebih kaya secara spiritual. Dalam sebuah hadis qudsi, Imam Ja’far berkata, di hari kiamat Allah melihat orang-orang mukmin yang fakir seolah iba dan berkata,“demi kemuliaan dan keagunganKu, sesiapa yang Aku fakirkan di dunia, menjadi tanggunganku. Lihatlah apa yang akan Kulakukan untuk kalian. Barangsiapa di antara kalian membekali dengan kebaikan di dunia, maka bisa mengambilnya dengan tangannya (langsung), lalu masuklah sorga. Seorang dari mereka berkata,“Mereka (orang-orang kaya) bersaing dengan dunia (harta) mereka, kawin dengan banyak wanita, mengenakan busana-busana lembut, makan aneka menu, menempati gedung-gedung dan menaiki kendaraaan-kendaraan terkenal. Maka berilah aku sebagaimana Kau berikan itu kepada mereka di dunia.” Allah swt menjawab,“Aku akan beri setiap orang dari kalian dengan harta seperti mereka di dunia 70 kali lipat” (terjemah bebas, Bihar 68)

by Islam Proletar on Thursday, January 6, 2011 at 1:39pm