Dolar AS, Produk Masa Lalu

Posted on Updated on

Presiden Cina Hu Jintao menolak seruan Amerika Serikat untuk meningkatkan nilai tukar yuan dan menyerukan pembicaraan lebih lanjut antara kedua belah pihak.

“Pertama, kita harus meningkatkan dialog dan kontak serta membangun strategi saling percaya,” kata Hu dalam wawancara tertulis dengan koran Washington Post, kemarin (Ahad,16/1).

“Kedua, kita harus meninggalkan mentalitas Perang Dingin, melihat perkembangan masing-masing secara obyektif dan bijaksana, dan menghormati pilihan masing-masing dalam jalur pembangunannya,” tambahnya.

Washington berulang kali mendesak Beijing untuk menaikkan nilar tukar yuan terhadap dolar dan mengalihkan fokus ekonomi dari luar ke dalam. Kemudian meningkatkan permintaan domestik dan menjauhkan diri dari pertumbuhan ekonomi yang berbasis ekspor.

Pekan lalu, Menteri Keuangan AS Timothy Geithner mengatakan, Cina bisa lebih baik dalam mengendalikan inflasi, jika membiarkan nilai tukar yuan naik.

Hu menyatakan bahwa Cina menggunakan berbagai strategi dalam pertempuran, termasuk inflasi dan kenaikan suku bunga, dan inflasi tidak bisa menjadi faktor utama dalam menentukan kebijakan nilai tukar mata uang.

Presiden Cina menyebut sistem mata uang dolar AS yang mendominasi pasar internasional sebagai suatu “produk masa lalu.” Ditambahkannya, hal itu akan menjadi proses yang cukup panjang untuk membuat mata uang Cina sebagai salah satu alat transaksi internasional.

Strategi mata uang dipercaya bahwa Cina secara bertahap akan menyerahkan kontrol atas perusahaan dan perdagangan dalam rangka internasionalisasi yuan dan strategi ini sangat penting untuk mengurangi kontrol modal dan reformasi mata uang asing.

Pernyataan ini dikeluarkan hanya beberapa hari sebelum kunjungan resmi Presiden Cina ke Washington, di mana isu-isu militer dan ekonomi akan dibahas oleh kedua negara. (IRIB/RM/AR)

Iklan