Siapakah Imam Musa Sadr?

Posted on Updated on

Imam Musa Sadr masih hidup. Itulah judul berita headline IRIB pada hari ini (Selasa, 22/2). Sami al-Misrati, seorang tokoh oposisi rezim berkuasa Libya dalam wawancaranya dengan televisi Alalam menyatakan, “Sebuah pesawat kecil kemarin (Senin, 21/2) merelokasi seorang yang ciri-cirinya seperti Imam Musa Sadr, dari bandara al-Abraq.” Berita ini sedikit berbeda dengan informasi sebelumnya. Apalagi Rezim Gaddafi tengah dihadapkan gonjang-ganjing serius. Para pendemo pro-demokrasi sudah menjalar ke seluruh penjuru negara ini. 

Revolusi Rakyat Libya menjadi harapan tersendiri bagi masyarakat Lebanon yang mengelu-ngelukan kembalinya Imam Mousa Sadr. Bahkan bukan hanya Lebanon yang mengelukannya, tapi hampir semua negara di kawasan. Sebab, Imam Musa Sadr bukanlah nama yang asing bagi masayarakat di negara-negara Arab. Sekjen Hizbullah Lebanon, Sayid Hasan Nasrollah dalam berbagai pidatonya selalu mendoakan Imam Mousa Sadr dapat kembali ke tanah airnya.

Pada 25 Agustus 1978, Imam Musa Sadr bersama dua orang yaitu, Syeikh Muhammad Yaqub dan Abbas Badruddin, pimpinan redaksi kantor berita Lebanon, tiba di Libya. Menurut rencana tanggal 29 atau 30 Agustus, mereka akan berdialog dengan Presiden Libya, Muammar Gaddafi. Namun sejak itu hingga kini Imam Musa Sadr raib tanpa jejak. Para pejabat tinggi Libya mengklaim bahwa Gaddafi mendadak membatalkan pertemuannya dengan Imam Musa Sadr.

Setelah Imam Mousa Sadr raib, Imam Khomeini ra mengeluarkan pernyataan yang menegaskan bahwa rezim Gaddafi adalah pihak yang bertanggung jawab atas nasib Imam Mousa Sadr. Republik Islam Iran pun menaruh perhatian khusus atas kasus raibnya Imam Mousa Sadr. Bahkan di Iran ada komite khusus di Parlemen yang berfungsi mengusut kasus raibnya Imam Mousa Sadr.

Putra Imam Mousa Sadr, Sadruddin, berulangkali menyatakan bahwa ayahnya masih hidup hingga kini. Kemudian Majelis Tinggi Syiah di Lebanon dalam berbagai pernyataannya juga menegaskan bahwa Imam Mousa belum meninggal. Bahkan dalam beberapa tahun lalu, mantan tahanan rezim Gaddafi yang baru lepas dari penjara Libya membenarkan bahwa Imam Mousa Sadr masih hidup. Apalagi Imam Mousa Sadr yang bertubuh besar sangat mudah dikenali. Dikatakannya pula, Imam Mousa Sadr di penjara juga menulis banyak buku.

Di Lebanon Imam Mousa Sadr mempunyai tempat tersendiri. Meski dikenal sebagai ulama Syiah, tapi beliau dapat diterima oleh semua kalangan. Bahkan langkah-langkah Imam Mousa Sadr yang cenderung tidak kaku membuat banyak kalangan, baik Sunni, Syiah maupun Kristen menerima ketokohannya. Lebih dari itu, Imam Mousa juga mempunyai gagasan mengenai Fikih Persatuan yang hingga kini masih menjadi perhatian tersendiri bagi ulama kontemporer. Imam Mousa Sadr adalah seorang ulama, faqih, sastrawan, ekonom, dan politisi Islam terkemuka yang dicintai dan dihormati di dunia Islam.

Di dunia politik, Imam Mousa Sadr sangat berjasa besar menekan perang saudara di Lebanon hingga beliau diculik pada 1978. Beliau juga membentuk gerakan Amal pada tahun 1975 dalam melawan segala bentuk agresi rezim Zionis Israel ke Lebanon. Hizbullah yang kini populer di dunia juga tidak terlepas dari kiprahnya.

Sejumlah analis memprediksikan bahwa bila Imam Mousa Sadr masih hidup dan bebas dari penjara, peta politik dan sosial di kawasan akan berubah. Apalagi Imam Mousa Sadr dikenal sebagai ulama yang dikenal mempunyai ide-ide cemerlang. (IRIB/AR/MF)

Iklan