Pele dan Para Durjana Sepak Bola

Posted on Updated on

Bertahun-tahun setelah pensiun, Pele berlimpah kekayaan. Bekas mahabintang ini menjadi bintang iklan Mastercard, Samsung, Coca Cola, dan sejumlah merek lain. Ia juga didapuk menjadi “duta besar” perusahaan minyak pelat merah Brasil, Petrobas.

Dengan fulus di tangan, pada 1993, ia hendak membeli hak siar kompetisi sepak bola Brasil. Tentu saja, ia harus berhadapan dengan Confederação Brasileira de Futebol (CBF), PSSI-nya Negeri Samba itu. Alih-alih diminta menempuh proses tender secara fair, petinggi CBF meminta Pele mengirim satu juta dolar ke rekening sebuah bank di Swiss jika mau keinginannya dipertimbangkan.

Pele marah besar. Dalam wawancara dengan majalah Playboy, ia bongkar praktik busuk ini. Sasaran utama kegusarannya adalah Ketua PSSI, eh…Ketua CBF Ricardo Teixeira. Sebelum berkiprah di CBF sebagai orang nomor satu sejak 1989, publik Brasil tak mengenal Teixeira sebagai pencinta bola. Kasak-kusuk yang beredar, ia bisa naik ke jabatan itu karena Joao Havelange, ketua FIFA saat itu, adalah mertuanya. Franklin Foer mengisahkan semua ini dalam karyanya  yang mengagumkan, How Soccer Explains the World: The Unlikely Theory of Globalization (2004).

Foer menulis, selama berkuasa di CBF, Teixiera menerima mobil mewah, apartemen di Miami, dan sejumlah pengawal pribadi. Saat CBF bergulat dengan timbunan utang, gaji mantan pengacara itu naik 300 persen. Memang, berbagai tuduhan korupsi dilancarkan. Tapi, pria kelahiran 20 Juni 1947 itu selalu bisa mengelak dengan menyiasati celah-celah hukum.

Sejak sebelum Teixiera berkuasa, sesungguhnya penampilan berkilau para pemain Brasil telah berbanding terbalik dengan kesemrawutan organisasi sepak bola di sana. Misalnya, para cartolas, julukan untuk para petinggi CBF, bisa seenak jidat mereka mengubah peraturan kompetisi untuk menguntungkan klub-klub tertentu. Selain alasan duit, para pemain Brasil hijrah ke Eropa lantaran menghindari kondisi ini.

Setahun setelah wawancara di Playboy itu, Fernando Henrique Cardoso terpilih menjadi Presiden Brasil. Cardoso, yang dikenal sebagai intelektual terpandang itu, lalu menunjuk Pele sebagai Menteri Olahraga. Ia dipilih karena keterlibatan aktifnya dalam upaya mereformasi CBF.

Tak lama kemudian, Pele dan jajarannya mengajukan sebuah rancangan undang-undang untuk meformasi persepakbolaan Brasil. Setelah gol di parlemen pada 1998, regulasi itu dikenal sebagai “UU Pele.” Di sana, dimuat aturan, di antaranya, klub diwajibkan bertindak sebagaimana badan usaha, diharuskan membuat pembukuan terbuka, para pemain juga diperlakukan lebih layak dengan memberi mereka keleluasaan untuk memilih klub. Tak lama setelah UU itu meluncur, Pele terkena badai reshuffle yang dilancarkan Cardoso.

Seiring lengser-nya Pele, UU Pele juga melempem seperti kerupuk dibelai angin. Para durjana sepak bola Brasil melancarkan upaya amandemen sehingga UU itu tak lagi berwajah reformis. Korupsi dan akal-akalan akuntansi kembali semarak. Celakanya, Pele sendiri seperti kehabisan energi dan justru mendekat ke pihak lawan. Pada Februari 2001, Pele menggelar konferensi pers bersama Teixiera untuk mengumumkan “pakta penyelamatan persepakbolaan Brasil.” Di depan kamera para jurnalis, mereka berangkulan.

Publik gempar. Dalam catatan Foer, Jose Trajano, kolomnis di harian olahraga Lance, menulis, “Bersatunya Pele dan Ricardo Teixiera adalah pengkhianatan terbesar kepada kita yang selama ini mempertahankan etika dalam olahraga…Ia telah menjual jiwanya kepada iblis.”

Teixiera kini menjalani periode keenam sebagai ketua CBF. Sejak Desember lalu, ia tengah diselidiki dalam dugaan suap dari agen pemasaran Piala Dunia, ISL, sebesar 9,5 juta dolar. Itu terkait posisi Brasil sebagai tuan rumah putaran final Piala Dunia 2014.

Sementara, sejak Agustus 2010, Pele lebih banyak berada di Amerika Serikat untuk mengurusi New Yok Cosmos, klub yang pernah diperkuatnya di 1970-an. Tentu, ia masih tajir.

Yus Ariyanto via Ama Salman

Iklan