Biaya Se-ikhlash Hati

Posted on Updated on

Kata2 “se-ikhlash hati” masih sering kita dengar di kantor2 instansi pemerintahan di saat kita melakukan pengurusan surat2 penting. Seringkali, di saat kita mengurus surat2 penting ataupun surat2 untuk kelengkapan administrasi, ketika di tanya berapa biayanya, maka kita akan mendapat jawaban,” yah, seikhlasnya saja, pak…” ataupun jawaban2 yg sejenisnya.

Sebenarnya, kalimat “…seikhlashnya saja,pak” tidaklah sungguh-sungguh mengharapkan bayaran dengan ke-ikhlash-an si pembayar, tetapi ada beberapa maksud dari kalimat tsb, yaitu:

Pertama, si pengungkap kalimat tsb mengharapkan bayaran lebih dari tarif jasa yg seharusnya sehingga kelebihan pembayaran tsb bisa masuk kantong pribadi. Kedua, mereka ingin mendapatkan uang tambahan dari jalan yg illegal. Ketiga, mereka sedang melakukan pungutan liar yg telah disepakati oleh instansi tersebut.

Biasanya, perbuatan2 seperti ini dilakukan oleh mereka yg berada di instansi pemerintahan, yaitu Pegawai Negeri Sipil. Selain dilatarbelakangi oleh kerakusan, kebiasaan ini pun dilatarbelakangi upaya “balas dendam” terhadap apa yg telah mereka alami sebelumnya saat masuk sebagai PNS. Kebanyakan mereka, masuk PNS dengan menyogok orang2 yg terkait dengan penerimaan sebagai PNS dengan sejumlah uang yg tidak sedikit. Dengan kata lain, pengutipan “uang ikhlash” ini dalam rangka “balik modal” atas uang sogokan untuk masuk PNS.

Saya, sudah sering mengalami perampokan “uang ikhlash” ini. Di saat mengurus KTP di kelurahan, mengurus surat izin Praktek di Dinas Kesehatan, dan pengurusan2 surat penting lainnya. Kebanyakan mereka tidak lagi bisik-bisik dalam hal ini. Bahkan, ada diantara mereka yg meminta lebih ketika “uang ikhlash” yg diberikan dirasakan masih kurang.

Apapun motif yg melatarbelakangi kebiasaan tsb, uang yg mereka dapatkan dari “seikhlash hati” itu adalah haram karena mereka tidak seharusnya menggunakan jabatan yg ada pada mereka untuk melakukan pungutan liar. Perbuatan ini juga mendzalimi orang yg sedang dalam keadaan membutuhkan yg takut seandainya mereka tidak “ikhlash” maka urusan mereka tidak akan dilayani.

Intinya, perbuatan seperti ini adalah sama dengan mencuri dan merampok. Uang yg dihasilkan adalah uang curian dan uang “panas” yg tidak seharusnya dikonsumsi oleh orang2 yg beriman kepada Allah dan Hari Akhir.

Uang “ikhlash” yg mereka bawa pulang untuk memberi makan anak dan istri mereka, untuk membiayai pernikahan mereka, untuk membahagiankan orang tua mereka, sebenarnya adalah api yg mereka kobarkan dalam perut orang2 yg mereka cintai. Jelaslah uang tsb tidak akan menyehatkan dan tidak akan membahagiakan di dunia dan akhirat karena bisa dipastikan bahwa orang2 yg diperas “uang ikhlash” tsb akan menyumpah serapah dalam hati walaupun mereka mengatakan, “terimakasih, pak!”

(Tulisan ini hanya untuk “curhat” dan tidak memenuhi standard penulisan ilmiah. Semoga saja, ada yg tergerak hatinya setelah membaca tulisan ini dan mau merubah kerusakan dalam tubuh pegawai pemerintahan yg sama2 telah kita ketahui kenyataannya)

by Prita Raihanita on Monday, March 14, 2011 at 10:41am