Indonesia: Negara Kaya Tapi Miskin

Posted on Updated on

Sepeda Motor yang Digunakan dalam Ekspedisi Saat Menyeberangi Tanjung Selor-Tarakan dengan Speedboat (Dok. Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa)“Welcome to Indonesia! It’s dangerously beautiful, Sir!” Demikian tulis Ahmad Yunus, 29 tahun, ketika mengetahui backpaker asal Inggris yang dikenalnya di atas kapal dicopet pada saat naik bus ekonomi rute Toraja-Makassar.

Catatan Yunus itu tertuang di zamrud-khatulistiwa.or.id. Situs ini merekam perjalanan dia dan Farid Gaban, jurnalis mantan redaktur Tempo, berkeliling Indonesia mengendarai sepeda motor. Perjalanan berbiaya sekitar Rp 350 juta itu dimulai pada Juni 2009 dan berakhir April tahun lalu. Selama ekspedisi itu, mereka telah mengunjungi 80 pulau, menghasilkan 70 jam rekaman video, 10.000 frame foto, tujuh buku, dan puluhan catatan perjalanan.

Senin pekan lalu, bertempat di kantor Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Jakarta, film dokumenter ekspedisi itu untuk pertama kalinya diputar untuk umum. Durasinya singkat, hanya 45 menit, tapi cukup memberi gambaran mengenai jalur ekspedisi yang ditempuh.

Dari Jakarta, mereka memulai perjalanan menyusuri pantai barat Sumatera. Dari Pulau Pahawang, Pulau Enggano, Kepulauan Mentawai, Aceh, Sabang, kemudian mereka berbalik turun menyusuri pantai timur Sumatera, melewati Medan, Selat Malaka, dan Pulau Natuna.

Lalu menyusuri Kalimantan lewat Singkawang, Pontianak, Ketapang, Tanjung Redep, lalu terus ke arah timur laut hingga ke Pulau Nunukan. Dari sana mereka ke Makassar, Pulau Miangas, Kepulauan Wakatobi, Banda Neira, kemudian bergerak makin ke timur hingga ke kota Merauke di Papua.

Setelah itu, Farid dan Yunus menyusuri wilayah selatan Indonesia seperti Flores dan terus bergerak ke barat hingga akhirnya kembali ke Jawa melalui Sidoarjo, Jawa Timur.

Durasi film 45 menit jelas tidak akan cukup untuk menampung berbagai pengalaman menarik selama mengunjungi ratusan kota di Indonesia itu. Maka, tim WatchDoc akhirnya membuat film dokumenter ini dalam bentuk kumpulan highlights. Tiap pulau hanya tampil beberapa menit. Lantas Farid dan Yunus secara bergantian hadir sebagai narator, menjelaskan fakta-fakta menarik yang mereka jumpai di sana.

Tiap pulau punya cerita tersendiri. Tentang Pulau Enggano, Yunus bercerita bagaimana masyarakat di sana terbiasa menyantap gulai penyu pada setiap acara hajatan. Ia tidak tega mencicipi. Puluhan penonton juga terhenyak ketika menyaksikan seekor penyu dipotong dengan parang oleh ibu-ibu. Gambar berikutnya memperlihatkan cangkang penyu sepanjang hampir satu meter yang sudah kosong (tidak ada isinya) tergeletak berlumuran darah di pantai.

Sementara itu, di kota Ranai, Natuna, cerita sedihnya adalah air bersih. Sumber mata air di Gunung Natuna sebenarnya masih banyak, tapi pipa air bersih hanya tersambung sampai ke pangkalan militer TNI Angkatan Udara (AU). Tidak sampai ke rumah warga, sehingga warga mengantre air bersih di pangkalan AU dengan jeriken.

Padahal, Natuna adalah kabupaten yang kaya cadangan gas alam. Anggaran pendapatan dan belanja daerah Natuna pada tahun ini, misalnya, menembus angka Rp 1,1 trilyun. Jadi, membangun jaringan pipa air bersih sampai ke rumah warga sebenarnya bisa dilakukan kalau pemda setempat mau. Ironisnya, Pemda Natuna lebih memprioritaskan membangun Masjid Raya Natuna yang sangat mewah, dengan biaya hampir Rp 800 milyar.

Farid lalu menjelaskan bahwa kebanyakan material untuk proyek masjid itu, seperti beton, keramik, semen, sebagian besar tukangnya, sampai rumput didatangkan dari Jawa, hingga dampak ekonomi pembangunan masjid itu terhadap warga lokal sangat kecil.

Ketika menyusuri Selat Malaka menuju Batam dengan kapal sayur, Farid menjelaskan tentang aparat yang tidak ubahnya perompak berseragam. Yunus menjelaskan lebih detail, yakni bagaimana kapal yang mereka tumpangi di Selat Malaka distop sampai empat kali oleh kapal patroli dari empat kesatuan berbeda: marinir, angkatan laut, polisi laut, dan polisi. Tiap patroli menarik pungli Rp 150.000-200.000 dari kapal, yang kemudian dibebankan pada harga sayur dan buah. Akibatnya, pembeli sayur di Batam harus menanggung ekonomi biaya tinggi.

Sedangkan di Ketapang, Kalimantan Barat, fakta memprihatinkan adalah ekspansi lahan perkebunan kelapa sawit yang menyebabkan kebakaran hutan dan perubahan hidrologi Sungai Kapuas. Sungai terpanjang di Indonesia ini, kalau musim kemarau, bisa kering sampai ke dasar sehingga bisa menjadi lapangan sepak bola. “Tapi, kalau musim hujan, Kapuas meluap,” kata Farid. Gambar lalu memperlihatkan sebagian dasar Sungai Kapuas yang kering retak-retak dan beberapa bocah yang asyik bermain bola.

Di Sulawesi, Farid dan Yunus meninggalkan motor mereka di Makassar dan lebih banyak berkeliling dengan kapal. Mereka mengunjungi Pulau Miangas yang terletak di perbatasan Indonesia-Filipina dan menemukan masyarakat di pulau terpencil itu terbiasa mengonsumsi talas sebagai pengganti beras. Ini terjadi karena kapal perintis yang membawa beras hanya datang seminggu sekali, bahkan dua bulan sekali bila cuaca buruk.

Mereka juga mengunjungi Pulau Binongko, dalam Kepulauan Wakatobi, Sulawesi. Pulau ini terkenal sebagai tempat pulang tukang besi karena hampir semua mata pencaharian warga di pulau ini adalah pandai besi. Farid lalu bertutur bahwa pulau pandai besi ini termasuk salah satu pemasok parang selama kerusuhan Ambon 1999. Motifnya bisnis saja, karena demand-nya memang tinggi. Selama kerusuhan Ambon itu, satu parang bisa dijual Rp 50.000.

Dalam bincang-bincang usai pemutaran, terungkap bahwa ini akan dijadikan sebagai bonus DVD cuma-cuma untuk buku tentang ekspedisi Zamrud Khatulistiwa yang akan terbit sebentar lagi. Adapun judulnya adalah Indonesia: Mencintaimu dengan Sederhana. Film ini juga tidak akan dikenai copyright. Siapa pun boleh mengunggah film ini ke internet sepanjang film credit tidak dihapus. “Saya penganut copyleft,” kata Farid.

Berbagai fakta menarik seputar perjalanan mereka sebenarnya lebih dulu populer di dunia maya sebelum film ini dibuat. Berbagai catatan perjalanan Farid dan Yunus sejak Juni 2009 telah diunggah ke situs zamrud-khatulistiwa.or.id dan situs jejaring sosial Facebook.

Laman khusus Facebook zamrud-khatulistiwa, misalnya, diikuti sampai 4.500 penggemar dan banyak yang langsung berkomentar usai Farid-Yunus mem-posting catatan atau foto perjalanan di sana. “Ini untuk pertama kalinya ekspedisi keliling Indonesia yang sifatnya interaktif,” ujar Farid.

Mengenai biaya, Farid mengatakan bahwa dana Rp 350 juta itu didapat dari penjualan royalti empat bukunya dan sedikit sponsor. Biaya memang menjadi kendala utama ekspedisi ini. Untuk menghemat, mereka tidur di losmen kelas Rp 75.000 semalam, sering menumpang di rumah penduduk, atau membuka tenda di pinggir jalan ketika berada di pedalaman Kalimantan. “Pengeluaran kami rata-rata Rp 200.000 sehari. Kecuali kalau harus menyelam, karena sekali menyelam bisa Rp 500.000,” Farid menjelaskan.

Kendala biaya itu pula yang membuat ekspedisi ini sempat berhenti dua bulan. Pada saat di Kalimantan, karena uang menipis, keduanya sempat kembali ke Jakarta. Setelah dana diperoleh, keduanya kembali ke Kalimantan dan meneruskan ekspedisi.

Tidak semua gambaran suram diperoleh dari ekspedisi itu. Dari segi kebangsaan, Farid mengatakan bahwa media benar-benar membuat bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu. “Di seluruh pelosok, hampir tidak ada orang yang saya temui yang tidak bisa berbahasa Indonesia, bahkan di perbatasan Papua Nugini,” katanya.

Tapi, secara umum, kontras antara kekayaan alam Indonesia dan kemiskinan penduduknya yang paling terasa, seperti dikatakan Farid di pamungkas film. “Saya mengonfirmasi bahwa Indonesia adalah negara yang sangat kaya, tapi masih banyak kemiskinan.”

Basfin Siregar

[Film, Gatra Nomor 19 Beredar Kamis, 17 Maret 2011]