Kalam yang Naik, Kalam yang Turun

Posted on Updated on

Syekh Ahmad At-Tijani dikenal sebagai seorang ulama mazhab Maliki yang kemudian memeluk mazhab ahlulbait. Kepindahannya dilalui dengan penelitian, pengalaman, dan perjalanan yang panjang. Karena itulah tidak heran dalam bukunya dia beberapa kali melakukan otokritik terhadap perilaku sebagian pengikut Syiah yang menurutnya kurang tepat. Salah satu di antaranya adalah dalam hal membaca doa dan Alquran. Dia mengkritik sebagian orang yang lebih mengutamakan kalam yang naik (doa) dan terkesan mengabaikan kalam yang turun (ayat).

Kalam yang Naik

Imam Khomeini menilai Mafâtih Al-Jinân sebagai kitab yang berisikan kalam yang naik. Kitab yang disusun oleh Syekh Abbas Al-Qummi ini berisikan doa, munajat dan amalan sehari-hari sepanjang tahun yang diajarkan oleh keluarga suci Rasulullah saw. Selain kitab tersebut juga terdapat Shahîfah Sajjâdiah yang dijuluki sebagai Zaburnya keluarga Muhammad saw. Kitab ini berisikan munajat indah Maulana Ali Zainal Abidin yang naik ke haribaan Allah Swt.

Ketika bermunajat dan berdoa kepada Allah, ahlulbait Rasulullah saw. selalu berada dalam kondisi tak sadarkan diri dan perhatian mereka terfokus kepada-Nya. Mereka begitu menikmati komunikasi naik kepada Kekasihnya. Karenanya, musibah terbesar manusia—na’udzubillâh—adalah ketika kita sudah merasa bosan bermunajat kepada Allah dan tidak merasakan kenikmatannya.

Ayatullah Mazhahiri pernah mengingatkan tentang pentingnya mendekatkan diri kepada Allah melalui doa. Beliau mengingatkan kita untuk selalu menyertakan doa dalam setiap langkah kehidupan, karena Allah Swt. sangat dekat dan cepat dalam mengabulkan setiap doa. Allah Swt. berfirman, “Ketahuilah, sesungguhnya Allah menjadi pembatas antara manusia dengan hatinya.” (Q.S. 8: 24)

Doa mampu menghubungkan manusia dengan Allah secara langsung. Namun karena kedudukan spiritual manusia tidak sama di hadapan Allah, maka ada kalanya kita bertawasul kepada kekasih-Nya. Sekaitan dengan seruan untuk meminta kepada Allah, ada hal yang perlu diingatkan sebagaimana yang disampaikan oleh Ayatullah Araki, “Sungguh Allah Swt. menangguhkan namun tidak mengabaikan. Allah memiliki kesabaran yang banyak, namun janganlah engkau terperdaya.”

Kalam yang Turun

Imam Khomeini juga mengatakan bahwa Alquran adalah kalam yang turun dari Allah Swt. kepada hamba-hamba-Nya; turun dari hujub nurani dan zhulmani, supaya dapat dipahami, dilihat, dan didengar. Ia merupakan perkataan dan sapaan Tuhan kepada hambanya. Jika seorang hamba tidak memiliki hubungan naluri yang mesra dan kerinduan dengan Tuhannya, niscaya ia akan terjerumus di kehidupan dunia dan akhirat.

Tapi mengapa kita yang tidak bisa bahasa Arab masih tetap membaca Alquran? Prof. Quraish Shihab pernah memberikan perumpamaan yang masih saya ingat sampai saat ini. Ada seorang ibu yang buta huruf menerima surat dari anaknya yang sudah lama berpergian jauh. Tapi ketika melihat dan mencoba membacanya, sang ibu menangis. Dia tidak bisa membaca tapi karena rasa rindu dan cinta, air mata tetap mengalir.

Apapun motivasi manusia dalam membaca Alquran, akan selalu muncul perasaan tenang dan damai ketika dan setelah membacanya. Kita membaca firman-firman Tuhan dan ketika sampai pada kalimat “wahai orang-orang yang beriman” itu artinya Allah sedang berdialog dengan kita. Menurut sebuah hadis, kesulitan kita saat membaca Alquran karena tidak lancar justru akan diganjar pahala dua kali lipat: pahala karena membaca dan pahal karena usaha sungguh-sungguh.

Hubungan yang dekat dan mesra antara Khalik dan makhluk akan membawa manusia kepada suatu posisi di mana ketika ia membaca Alquran niscaya ia akan memahami bahwa Allah Swt. sedang berbicara dengan dirinya. Ketika ia berdoa kepada Allah, ia memahami bahwa ia sedang berbicara dengan Allah Swt. Imam Khomeini berkata, “Seorang manusia dapat membangun dirinya dari dua hal: pertama Alquran dan kedua doa.”

Di bulan puasa ini, Rasulullah saw. dan ahlulbaitnya senantiasa mengkhatamkan Alquran pada setiap malam Ramadan dan sangat menganjurkan pengikutnya untuk memperbanyak membaca doa dan Alquran. Berikut ini saya kutipkan dari kitab Mafatihul Jinan, doa sebelum dan sesudah membaca Alquran, yang diajarkan oleh Imam Jafar Ash-Shadiq a.s. Sebuah komunikasi kalam yang naik terhadap kalam yang turun. Semoga bermanfaat!

Doa Sebelum Membaca Alquran

بسم الله الرحمن الرحيم

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

اللهم صلي على محمد وآل محمد

Ya Allah, sampaikan salawat kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad

   اللهم إني أشهد أن هذا كتابك المنزل من عندك على رسولك محمد بن عبد الله صلى الله عليه وآله

Ya Allah, aku bersaksi bahwa sesungguhnya Alquran adalah kitab-Mu yang diturunkan dari sisi-Mu kepada rasul-Mu, Muhammad bin Abdillah saw.

وكلامك الناطق على لسان نبيك

Firman-Mu yang diucapkan melalui lisan nabi-Mu

جعلته هاديا منك إلى خلقك وحبلا متصلا فيما بينك وبين عبادك

Engkau jadikan Alquran sebagai petunjuk bagi ciptaan-Mu serta sebagai tali penghubung yang menghubungkan antara Engkau dan hamba-Mu

اللهم إني نشرت عهدك وكتابك

Ya Allah, sesungguhnya aku hamparkan janji dan kitab-Mu

اللهم فاجعل نظري فيه عبادة وقراءتي تفكرا وفكري اعتبارا

Ya Allah, jadikanlah pandanganku kepadanya (Alquran) sebagai ibadah, bacaanku atasnya sebagai pemikiran, dan pemikiranku atasnya sebagai pelajaran

 واجعلني ممن أتعظ ببيان مواعظك فيه وأجتنب معاصيك

Jadikanlah aku sebagai orang yang menasihati manusia dengan nasihat-nasihat-Mu yang terkandung di dalamnya, menasihati manusia agar menjauhkan diri dari bermaksiat kepada-Mu

ولا تطبع عند قراءتي على سمعي ولا تجعل على بصري غشاوة

Janganlah Engkau tutup pendengaranku (sehingga aku tidak memperoleh pelajaran) ketika aku membacanya dan jangan halangi pandanganku (untuk memperoleh pelajaran)

ولا تجعل قراءتي قراءة لا تدبر فيها

Janganlah Engkau jadikan bacaanku sebagai bacaan yang tanpa pendalaman terhadap kandungannya

 بل اجعلني أتدبر آياته وأحكامه آخذ بشرايع دينك

Tapi jadikanlah dengan membacanya aku dapat mengambil manfaat pelajaran dari ayat-ayat dan hukum-hukumnya yang menjadi rujukan hukum-Mu

ولا تجعل نظري فيه غفلة  ولا قراءتي هذرا

Janganlah Engkau jadikan pandanganku sebagai pandangan orang yang lalai dan bacaanku sebagai bacaan yang meragukan

 إنك أنت الرؤوف الرحيم

Sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Penyayang

Doa Sesudah Membaca Alquran

اللهم اني قد قرأت ماقضيت من كتابك

Ya Allah, sungguh aku telah membaca ketetapan-ketetapan dalam kitab-Mu

المنزل على نبيك الصادق صلى الله عليه واله وسلم

Yang telah Engkau turunkan kepada nabi-Mu yang jujur saw.

 فلك الحمد ربنا

Kepada-Mu segala puji, wahai Tuhan kami

 اللهم اجعلني ممن يحل حلاله ويحرم حرامه

Ya Allah, jadikan aku termasuk ke dalam golongan yang menghalalkan apa yang Engkau halalkan dan mengharamkan apa yang Engkau haramkan

 ويؤمن بحكمه ومتشابهه

Mengimani ayat-ayat yang muhkamat (arti yang tersurat) dan yang mutasyabihat (arti yang tersirat)

واجعله لي انسا في قبري وانسا في حشري

Jadikanlah Alquran sebagai penolong diriku ketika dalam kubur dan ketika di hari pengadilan

 واجعلني ممن ترقيه بكل آية قراتها درجة في اعلى علين

Jadikanlah aku termasuk dalam golongan yang diangkat derajatnya ke tempat yang tinggi dengan perantara setiap bacaan yang kubaca

 امين رب العالمين

Perkenankanlah permohonan kami, wahai Pemelihara alam semesta.

Posted by