Lupa Ingatan: ‘Penyakit Jiwa’ Para Pejabat

Posted on

Jakarta, Belakangan ini ada beberapa kasus yang sedang marak diperbincangkan dikaitkan dengan terminologi kondisi mental emosional seseorang yang merupakan ranah seorang dokter jiwa. Terakhir yang menarik adalah masalah kondisi LUPA INGATAN yang mulai sering dialami pejabat-pejabat yang sedang terkena kasus korupsi.

Belum lama ini seorang menteri mengatakan lupa saat diperiksa sebagai saksi di pengadilan berurusan dengan kasus korupsi. Lalu beberapa hari kemudian seorang ketua partai besar juga tidak mengakui apa yang pernah dikatakan oleh sang bendahara tentang keterlibatannya dalam suatu perusahaan dan proyek yang ternyata merugikan negara.

Sayangnya sebenarnya beberapa bukti yang terpampang jelas merujuk pada keterlibatan mereka dalam proses kejadian yang saat ini disangkalnya dan mengatakan lupa.

Lupa Ingatan Itu Sakit Jiwa

Sebagai seorang psikiater saya akrab dengan pasien-pasien yang lupa ingatan karena penyakit jiwa yang dinamakan Demensia. Penyakit yang sering tidak diketahui sampai benar-benar parah ini hampir lebih sering mengenai pasien lanjut usia. Paling sering yang datang ke tempat praktek saya adalah Demensia Alzheimer.

Demensia Alzheimer adalah salah satu jenis Demensia yang ditandai dengan penurunan secara nyata dari fungsi memori (kesulitan dalam belajar informasi baru dan memanggil informasi yang dipelajari sebelumnya) dan salah satu dari fungsi intelektual (gangguan bahasa, gangguan melakukan aktifitas motorik, kesulitan dalam mengenal benda, gangguan dalam fungsi eksekutif seperti merencanakan, mengorganisasi, pengabtrakan dan merangkai tindakan ).

Keadaan ini mengganggu fungsi pribadi dan sosial individu itu. Demensia Alzheimer hanya merupakan salah satu dari jenis Demensia namun angka kejadiannya paling tinggi (lebih dari 50% kasus demensia adalah demensia Alzheimer).

Biasanya Demensia atau dikenal dengan Penyakit Pikun ini diderita oleh pasien yang berusia 60 tahun ke atas walaupun karena beberapa sebab seperti serangan stroke, trauma kepala berat dan kencing manis yang tidak terkontrol, pasien bisa mengalami gejala-gejala demensia pada usia yang lebih dini. Gejala awal yang paling sering dialami oleh pasien yang mengalami demensia adalah LUPA.

Selective Dementia

Lalu apakah yang terjadi pada para pejabat yang sering kali lupa ingatan akan peristiwa terkait tindak korupsi ini bisa dinamakan Demensia? Rasanya hal itu memerlukan pemeriksaan yang lebih jauh. Hanya saja secara gamblang kita melihat bahwa apa yang dialami oleh para pejabat ini sepertinya hanya lupa hal-hal tertentu saja bukan lupa semuanya.

Seorang pasien yang mengalami demensia apalagi tipe Alzheimer daya pikirnya semakin lama semakin menurun. Pasien sering bahkan sudah mulai lupa tempat tinggalnya di mana atau merasa tempat tinggalnya saat ini bukan rumahnya. Pasien juga bisa lupa dengan anggota keluarganya bahkan anak-anaknya sendiri.

Jika melihat dari usia, para pejabat ini tentunya belum termasuk golongan manusia di atas 60 tahun. Lalu jika dilihat dari riwayat kesehatan walaupun tentunya tidak pernah dikatakan ke publik, rasanya pejabat-pejabat ini tidak pernah mengalami peristiwa sakit yang berat seperti trauma kepala berat, serangan stroke berdarah yang membuat koma dalam jangka waktu tertentu atau keracunan zat yang membuat otak menjadi rusak.

Artinya secara sepintas dengan mata awam kita melihat pejabat-pejabat ini baik-baik saja kesehatannya.

Malingering

Lalu kalau demikian apakah masih bisa dipercaya yang dikatakan para pejabat itu bahwa dirinya LUPA? Tentunya ini merupakan tugas dari para penegak hukum untuk membuktikan apakah benar-benar lupa atau sebaliknya hanya pura-pura lupa.

Proses pemeriksaan dan sampai persidangan nanti tentunya diharapkan ada suatu proses yang transparan, jujur, adil dan memperhatikan fakta-fakta yang ada. Orang bisa seribu kali bilang Lupa tetapi kalau fakta berkata lain maka apa yang dikatakannya bisa gugur malah bisa disebut berbohong.

Bicara tentang gangguan jiwa yang seringkali diungkapkan oleh para orang-orang yang terkena atau terlibat kasus-kasus hukum, saya jadi ingat ada suatu terminologi dalam ilmu kedokteran jiwa yang disebut Malingering.

Malingering ini merupakan suatu ‘gangguan jiwa pura-pura’ dimana seseorang berusaha menampilkan dirinya dengan gejala-gejala gangguan jiwa agar terhindar dari proses hukum atau pengadilan. MALINGERING memang bukan diagnosis gangguan jiwa, tapi memang sepertinya banyak dialami oleh para MALING.

Salam Sehat Jiwa!

Penulis
Dr.Andri,SpKJ
Psikiater, Pengamat Kesehatan Jiwa

Iklan