Reshuffle Kabinet: Masturbasi Politik

Posted on Updated on

Reshuffle kabinet pemerintahan SBY-Boediono (KIB II) bukan lagi sebuah akrobat politik tapi mirip masturbasi politik. Sebagai pemegang hak prerogatif, SBY asyik dengan dirinya sendiri, dengan pikiran-pikirannya, dengan halusinasinya. Masturbasi politik hanya ingin menunjukkan bahwa presiden adalah pusat magnet kekuasaan.

Seolah-olah, SBY ingin menunjukkan bahwa dialah presiden negeri ini. Dialah pemegang hak prerogatif. Hanya dia pusat kekuasaan. Semua orang harus mengikutinya, mendekatinya, merengek-rengek kepadanya, dan bila perlu, demi mendapatkan kue kekuasaan, “menyembahnya.”

Meski dilakukan penilaian kinerja kabinet, pergantian menteri tidak menjawab rapor merah kinerja menteri. Perombakan kabinet juga tidak memberi kepastian hukum dan penegakan korupsi. Menteri-menteri yang diduga terseret kasus korupsi tetap bisa duduk tenang dan tertawa-tawa. Tidak ada rasa malu. Tidak pula punya rasa bersalah. Seolah-olah kehidupan bernegara ini cuma diatur dalam teks kaku, tanpa ruh, tanpa perasaan, tanpa nilai-nilai. Menteri yang bolak-balik digelandang ke pengadilan Tipikor tetap dianggap sama putihnya dengan menteri yang berprestasi.

Upaya peningkatan kinerja hanyalah seolah-olah harapan. Yang terjadi justru tugar guling politik. Menteri-menteri hanya ditukar posisinya. Menteri B menempati posisi Menteri C. Semua pergeseran ini hanya haha hihi masturbasi politik semata.

Mungkin hanya Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan yang diapresiasi baik. Selain orangnya yang sudah “selesai” dengan dirinya sendiri, Dahlah Iskan sudah seolah-olah selesai dengan “hidupnya.” Dahlan tidak lagi memikirkan kekayaan untuk dirinya. Juga tidak lagi memerlukan jabatan. Dia hanya ingin memanfaatkan bonus umurnya untuk pengabdian kepada masyarakat. Harapan publik, Dahlan berani mengambil kebijakan super tegas untuk memotong mata rantai korupsi. Pergesean menteri-menteri lainnya hanyalah onani politik sang penentu reshuffle.

Banyak dari kita menyebut negeri ini mirip pesawat outopilot. Negeri ini berjalan begitu saja nyaris tanpa kehadiran pemerintah. Presiden dan para menterinya nyaris selalu absen dalam kegiatan rakyat. Kalau pun pemerintah datang, kehadiranya justru menyulitkan bahkan mematikan kehidupan rakyat.

Tangan pemerintah dalam menentukan regulasi justru membuat petani terkapar. Kebijakan zero tax bagi produk pertanian misalnya membuat para petani ambruk. Mesin impor diperbesar. Pasar domestik akhirnya dibanjiri produk-produk impor. Seperti air bah, banjir impor ini tak bisa dibendung. Pengusaha akhirnya memilih gulung tikar, menutup usahanya, karena kalah bersaing.

Drama reshuffle lebih mirip sinetron “menteri yang ditukar” dan “cinta menteri 2.” Substansi pergantian menteri lebih pada tarik-menarik kepentingan politik bahkan sebagian kita menudingnya sebagai modal pemilu 2014. Ada delapan nama menteri baru masuk Kabinet Indonesia Bersatu II, tujuh menteri dan seorang kepala Badan Intelijen Negara. Empat menteri bergeser tempat. Tapi kita nyaris hanya meributkan posisi bukan visi kabinet baru ini mau ke mana.

Semestinya SBY memilih menteri tidak hanya merepresentasikan kepentingan partai. Meski juga tidak menafikannya. Sangat penting memilih orang yang dipersepsi publik sebagai ikon perubahan dan pemilik harapan. Dengan begitu rakyat memiliki harapan untuk berubah, menjadi lebih baik. Tanpa harapan, untuk apa kita hidup bernegara, untuk apa kita memilih presiden, untuk apa kita memerlukan seabrek menteri di kabinet.

Jika perombakan kabinet hanyalah masturbasi politik, berhentilah berharap pada pemerintahan seperti ini. Percayalah pada kebesaran Tuhan Yang Maha Esa bahwa negeri ini memang ditakdirkan seperti pesawat autopilot.

(Habe Arifin, dicopas dari milist Jurnalisme)