Tawa Adang, Tawa Amrozi

Posted on Updated on

Nunun Nurbaeti ditangkap oleh KPK. Suaminya, Adang Daradjatun, tampil di televisi dengan tertawa. Tawanya persis seperti senyum Amrozi, teroris bom Bali saat dibekuk polisi saat tampil bersama Kapolri Dai Bahtiar. Tawa Adang, tawa Amrozi, tawa Dai. Apa bedanya?

Tawa Adang bukanlah cermin ia sedang bahagia. Isterinya ditangkap karena diduga bermain patgulipat korupsi. Tawa Amrozi juga tidak untuk kesenangan. Sang bomber ini kelak kemudian ditembak mati di tiang gantungan yang sunyi.

Adang bukan warga negara biasa. Ia meniti karier yang cukup mentereng. Karier puncaknya adalah wakil kepala kepolisian RI. Hukum di negeri ini seolah melekat di pundaknya. Tetapi ia tak kuasa menggunakannya untuk isterinya. Hukum seakan mati suri.

Tawa Adang adalah sebuah ironi. Ia sedang menertawai dirinya sendiri. Ia kalah dalam permainan tarik ulur kepentingan. Ia menertawai penegak hukum yang mandul. Mandul oleh tekanan penguasa. Mungkin juga oleh dirinya. Ia menertawai episode kemenangan takdir. Takdir bahwa hukum adalah panglima untuk siapa saja: untuk masyarakat, untuk pejabat, atau untuk dirinya sendiri. Ia tertawa untuk kegundahannya. Ia tertawa untuk mengutuki jalan hidupnya. Ia tertawa untuk kematian akal sehatnya. Ia tertawa untuk menghinakan nasibnya.

Adang juga manusia. Ia pasti punya salah. Tapi dengan tawanya, Adang seolah sedang menakar perlawanan baru. Sebagai pensiunan jenderal, ia masih punya korps. Sebagai anggota parlemen, ia masih punya partai. Partai masih punya pengikut. Para pengikut masih punya keyakinan. Keyakinan bahwa Adang tidak bersalah. Isteri Adang juga bukan ahli neraka. Tawa Adang adalah halal. Tawa Adang adalah perlawanan. Perjuangan memertahankan kehormatan adalah surga.

Seperti halnya Amrozi. Tawa Amrozi adalah tawa untuk menghina korban bom yang tewas. Penghinaan bagi penegak hukum yang keropos. Penghinaan bagi kekuasaan ijajil yang haram.

Tawa Amrozi adalah tawa kemenangan. Kemenangan bagi dirinya. Kemenangan bagi keyakinan yang disanjungnya. Kemenangan bagi para penghuni surga. Kemenangan bagi siapa saja yang berteriak “Allahu Akbar” di depan kamera ketika bom meluluhlantakkan Kuta. Kemenangan bagi kesetiaan perjuangan.

Amrozi tidak sedang tertawa karena ia bahagia karena bakal masuk surga dan meniduri ribuan bidadari. Tawa Amrozi adalah kehinaan bagi dirinya yang memusnahkan peradaban dan kemanusiaan. Tapi peradaban yang ia yakini adalah kejahanaman, tawa Amrozi adalah perjuangan melawan kehinaan lainnya.

Tawa kita bisa beribu maknanya. Tawa Adang, tawa Amrozi juga bisa berjuta artinya. Tawa Adang ketika mendapati isterinya ditangkap adalah tawa penderitaan dan perlawanan. Tawa Amrozi ketika dipublikasikan bersama Kapolri Dai Bahtiar juga sebuah penderitaan dan perlawanan. Adang dan Amrozi sejatinya sedang menderita. Tapi keduanya meyakini satu hal: bahwa keduanya sedang memperjuangkan perlawanan.

Bagi kita, perlawanan Adang dan Amrozi adalah perjuangan semu. Ia sedang memperjuangkan kelaliman dan pelanggaran hukum. Hukum yang kita sepakati bersama ketika kita berani dilahirkan di bumi “sansekerta” ini.

Perjuangan semu hanya akan melahirkan keputusasaan dan kenisbian. Ia hanya akan melayari ruang-ruang kosong yang sunyi. Ia hanya akan menabuh genderang di malam yang hening. Ia akan kesepian dan sendiri. Ia akan masuk “surga” yang diciptakan oleh pikirannya sendiri. Ia akan bersanding dengan bidadari khayalannya sendiri. Ia akan menjadikan dirinya Tuhan, yang menentukan kebenarannya sendiri. Ia akan tertawa: sendiri. ***

Jakarta, 11 desember 2011
Habe Arifin

SALAM TAWA dari Sufi_kampoeng , 13 Desember 2011