Menua Yang Indah

Posted on Updated on

Deepak Chopra pernah menulis buku Grow Younger Live Longer, ada fakultas kedokteran yang membuka program pasca sarjana anti aging, namun  kendati demikian ia tidak bisa menolak kenyataan semua menua. Pohon, binatang, manusia, semesta semuanya menua. Perhatikan es yang meleleh di kutub, cuaca yang mengalami anomali, bencana di mana-mana, semua adalah tanda-tanda semesta yang menua.

Mencoba melawan hukum penuaan, hanya akan memperpanjang daftar panjang penderitaan yang sudah panjang. Penyakit, stres, depresi, salah-salah konflik dengan pihak lain bisa menjadi limbah akibat perlawanan akan proses penuaan.

Untuk itulah para bijaksana serius mempersiapkan diri agar menua secara indah. Berbeda dengan  gaya hidup kebanyakan orang yang ditandai banyak perlawanan, di jalan ini kebahagiaan lebih dekat dengan kualitas penerimaan seseorang   terhadap   kehidupan.   Bekerja, berusaha, berdoa tetap menjadi menu-menu keseharian, namun mengalir bersama   berkah   kehidupan,   itulah    yang   membahagiakan sekaligus membebaskan.

Makanya ada yang menulis, melawan putaran kehidupan adalah penderitaan, mengalir sempurna bersama putaran kehidupan itulah pembebasan. Halangan utama dalam membuat kehidupan agar mengalir adalah keinginan untuk senantiasa lebih dari yang lain. Tabungan lebih banyak, jabatan lebih tinggi, nama lebih dikenal, mobil lebih mewah. Padahal alam bertutur, matahari tidak bisa membuat dirinya selalu lebih terang dari bulan, bulan tidak bisa membuat dirinya selalu lebih terang dari bintang. Semua ada putaran waktunya.

Bila saatnya jabatan naik, naiklah dengan penuh pelayanan. Karena pelayanan yang menentukan seberapa indah nantinya ketika turun. Kalau waktunya jabatan turun, songsonglah ia sebagai berlimpahnya waktu untuk berdoa dan membantu pihak lain. Ketika sehat banyaklah berdoa dan berkarya. Tatkala sakit, yakini rasa sakit sebagai kesempatan untuk membayar kesalahan-kesalahan masa lalu.

Inilah modal agar menua secara indah. Putaran waktu naik-turun, suka-duka, sukses-gagal memang terus berputar sebagaimana siang dan malam, namun ia kehilangan cengkeramannya. Digantikan oleh keikhlasan di depan kehidupan. Dalam bahasa para tetua, di umur tua hanya keikhlasan yang membahagiakan sekaligus membebaskan.

Banyak anak muda yang bertanya, adakah persiapan khusus yang dilakukan agar nanti menuanya jadi indah? Sejalan dengan hukum alam, tatkala umur masih muda (di bawah 40 tahun)  ambillah  beban-beban  berat  kehidupan.  Dari sekolah, kursus, mencari bea siswa, memulai karir dari bawah, mengawali pernikahan, menabung, sampai dengan belajar yang keras. Ibarat menggendong beban, gendonglah yang berat-berat ketika badan masih kuat dan sehat.

Nanti ketika badan tidak lagi sekuat dan sesehat tatkala masih muda, yang tersisa hanya beban-beban yang lebih ringan. Sehingga kendati masa tua badan sudah mulai berbau minyak kayu putih, pikiran mulai ringan. Secara material, setelah anak-anak tamat sekolah dan bisa menghidupi dirinya, ada sisa-sisa tabungan yang bisa digunakan di masa tua. Secara spiritual, karena pikiran sudah ringan dari keinginan, maka kehidupan mulai bercengkrama dengan getaran-getaran doa.

Ini mungkin yang disebut orang Inggris sebagai life begins at fourty. Kehidupan mulai di umur 40. Arti kata “mulai” adalah mulai meninggalkan materialitas dan memasuki spiritualitas. Mulai meninggalkan kehidupan di bumi yang berat oleh tarikan gravitasi keinginan dan keserakahan, memasuki perjalanan jiwa yang ringan. Seringan asap dupa yang bergerak naik ke langit. Meminjam pendapat seorang sahabat Muslim: “Ternyata shalat ada rasanya”.  Atau sebagaimana diwariskan oleh St. Theresia: “Yang tersisa hanya dahaga untuk mencinta”.

Mungkin itu sebabnya tetua Bali menyebut kegiatan persembahyangan dengan kata mebakti. Di umur tua, kekayaan yang akan dibawa pulang hanya bakti, sujud, hormat penuh puja. Inilah menua yang indah. Namun sebagaimana pesawat yang memerlukan waktu tertentu untuk terbang, demikian juga kehidupan yang siap-siap meninggalkan tarikan keinginan. Lakukanlah secara pelan dan alamiah.

Oleh : Gede PrAMA

Powered by Ama Salman al-Banjari

Iklan