Iran Pemenang Perang di Irak

Posted on Updated on

Koran USA Today dalam analisanya mengevaluasi capaian militer Amerika Serikat dalam pendudukannya selama sembilan tahun di Irak. Koran beroplah besar di Amerika Serikat itu mengakui bahwa Iran menjadi pemenang perang di Irak.  Masalah penarikan mundur pasukan Amerika dari Irak dan dampaknya bagi kepentingan AS di Timur Tengah, dikupas dalam analisa tersebut.

Di awal analisa itu disebutkan, “Di dunia fantasi dan ideal, perang Irak harus diakhiri dengan perdamaian, ketenteraman, stabilitas, dan demokrasi. Pada saat yang sama, Iran harus tergeser ke tepi, dan rakyat Irak seharusnya bersuka cita melupakan kegembiraan mereka di jalan-jalan dalam mengapreasi pengorbanan tentara Amerika Serikat dan tewasnya sekitar 4000 pasukan Amerika dalam proses penggulingan rezim zalim dan despotik.”

“Namun di dunia nyata, para arsitek perang tidak membayangkan akan menyaksikan hari seperti ini. Sejak George W. Bush dengan bangga menyatakan ‘mission accomplished’, hingga kini muncul pertanyaan soal bagaimana Amerika Serikat dapat meraih kemenangan “relatif” di Irak dan dapat keluar dari negara itu secepat mungkin. Sembilan tahun telah berlalu dari bencana itu. Dua kali lipat masa Perang Dunia Kedua.”

Sejumlah tokoh Republikan menuding pemerintah Obama bertanggung jawab atas kegagalan Amerika di Irak.

Akan tetapi koran USA Today menyebutkan, “Kegagalan perang di Irak merupakan hasil dari politik keliru Bush dan Cheney. Bagaimana mungkin Amerika Serikat dapat menjaga kepentingannya di Timur Tengah dengan mengusung pasukan ke wilayah itu.” Kini opini publik rakyat Muslim sangat membenci Amerika Serikat dan tidak seperti yang diharapkan, dukungan terhadap Iran semakin kuat. Iran yang menjadi pemenang dalam perang di Irak.

Joe Lieberman, seorang senator AS pro-Israel, menentang keras penarikan mundur pasukan Amerika dari Irak. Menurutnya, Amerika harus mempertahankan sedikitnya 100 ribu pasukannya di Irak. Ia mengakui kegagalan pemerintah Obama dalam berinteraksi dengan pemerintah Perdana Menteri Irak, Nouri al-Maliki. Namun demikian, Lieberman bersikeras agar Washington terus berusaha karena jika tidak maka apa yang selama ini telah dikorbankan Amerika di Irak hangus.

Lieberman menuntut Obama harus kembali melakukan pendekatan persuasif lebih agresif dengan pemerintah Maliki soal keberadaan pasukan Amerika di Irak. Eskalasi pengaruh Iran di Irak, menjadi alasan utama Lieberman.

ALLOHUMA SHOLLI ALA SYAYYIDINA MUHAMMADIN WA AALA ALLIHI SYAYYIDINA MUHAMMAD