Istilah-istilah yang Terus Gagal Dimaknai

Posted on Updated on

Fundamentalisme, radikalisme, ekstremisme dan terorisme di Timur Tengah menjadi sangat rumit karena perbedaan definisi dan penggunaan yang (sengaja ataupun tidak) menimbulkan tumpang tindih dan penerapan yang sembarangan. Ketiadaan kriteria dan standar tunggal telah menjadikan tema-tema ini lebih sering “diatur” oleh media ketimbang “didefinisikan” secara ilmiah. Kontroversi seputar tema-tema ini makin keruh dengan munculnya stereotip seputar Islam sebagai agama yang mengajarkan jihad, dan asosiasi jihad dengan kekerasan. 
Akibatnya, gerakan-gerakan Islam fundamentalis dengan mudah dituduh sebagai kelompok ekstremis yang mendorong aksi-aksi teroris pada pihak-pihak lain, terutama AS dan Barat. Tuduhan seperti ini tentu memperunyam masalah. Selain dapat dianggap sebagai mengungkapkan tuduhan tak berdasar, juga dapat memperkuat praduga yang ada di kalangan gerakan Islam sendiri bahwa Barat memiliki apa yang disebut sebagai Islamofobia.

Upaya Mencari Beberapa Definisi

Fundamentalisme sebenarnya merupakan istilah yang tumbuh dalam sejarah pemikiran Barat. Ia merujuk pada sikap sebagian kaum Kristen yang berpegang teguh pada doktrin-doktrin teologis yang biasanya dipahami sebagai reaksi terhadap gerakan liberalis yang mengajak setiap orang untuk bersikap longgar terhadap doktrin-doktrin teologisnya.[i] Istilah “fundamentalisme” dipakai oleh para pendukungnya untuk menjelaskan seperangkat ajaran teologis yang dikembangkan menjadi gerakan dalam komunitas Protestan Amerika Serikat pada paruh awal abad 20.[ii] Singkatnya, istilah ini umumnya memiliki konotasi religius yang menunjukkan ikatan yang kokoh pada sejumlah ajaran agama secara menyeluruh. Namun demikian, istilah fundamentalis kini juga dipakai dalam terminologi politik dengan makna yang peyoratif, terutama ketika dipakai sebagai kata sifat seperti dalam ungkapan “Islam fundamentalis”.

Istilah lain yang sering menimbulkan kebingungan adalah radikalisme. Radikal secara bahasa berasal dari kata Latin radix yang berarti akar. Dalam terminologi politik, radikalisme dipakai untuk menunjukkan prinsip-prinsip politik yang bertujuan mengubah struktur politik dengan cara-cara revolusioner dan mengubah sistem nilai sosial secara fundamental. Secara historis, radikalisme kerap dipakai untuk mengacu pada “kelompok kiri radikal”. Namun, sama seperti istilah “kelompok fundamentalis”, gerakan radikalis sering digunakan oleh kalangan status-quo dalam makna yang tidak baik, dan dikaitkan dengan kekerasan. Dalam penggunaannya, radikalisme sering dikaitkan dengan ideologi fundamentalis dan revolusioner, sehingga ketiga istilah ini memiliki penggunaan yang berdekatan.

Berbeda dengan kedua istilah di atas, ekstremisme dipakai untuk mengacu pada ideologi atau aksi politik yang keluar dari poros atau pusat, yang sering dipersepsi sebagai standar moral umum. Dalam masyarakat Barat, ekstremisme sering dikaitkan dengan individu atau kelompok yang mendorong penggantian demokrasi dengan otoritarianisme. Demikian pula sebaliknya, di negara-negara otoritarian, individu atau kelompok yang ingin mengganti rezim secara total dicap sebagai ekstremis. Bahkan, para pejuang kemerdekaan di negara-negara yang dijajah juga sering disebut sebagai ekstremis.[iii] Karena itu, dalam konotasi keagamaan, ekstremisme (tatharruf) lebih dekat dengan makna fanatisme (ta’ashshub) ketimbang fundamentalisme.

Dalam diskursus Islam, individu atau kelompok ekstremis biasanya dikaitkan dengan pola pikir keagamaan yang kaku, jumud, menolak rasionalitas dan menolak pihak lain baik melalui cap sesat ataupun kafir. Kelompok-kelompok Islam yang berafiliasi dengan mazhab Salafi-Wahabbi paling sering dianggap sebagai ekstremis yang menolak segala rupa peluang kompromi atau jalan tengah dengan pihak mana pun, termasuk dengan pihak-pihak internal Islam sendiri.

Konteks Timur Tengah

Mungkin tak ada wilayah di dunia ini yang lebih dinamis dengan situasi yang lebih kompleks daripada Timur Tengah. Kompleksitas ini menyebabkan tumpang-tindihnya kategorisasi dan penggunaan masing-masing istilah di atas. Tentu campur-tangan dan kepentingan asing adalah penyumbang terbesar munculnya kompleksitas bahkan kontradiksi dalam berbagai persoalan di Timur Tengah. Namun demikian, faktor-faktor eksternal itu tidak tidak akan efektif tanpa kehadiran faktor-faktor internal dalam masyarakat Timur Tengah itu sendiri, terutama di tengah umat Islam.

Diakui atau tidak, Islam adalah kekuatan tunggal paling potensial untuk mempersatukan seluruh elemen gerakan di Timur Tengah. Selama berpuluh-puluh tahun, Islam menjadi sumber inspirasi berbagai gerakan Islam, baik gerakan kemerdekaan maupun gerakan kebangkitan. Tapi, sayangnya, antara pemahaman Islam dan pengalaman dalam mempraktikkannya terbentang jurang yang sangat lebar. Kita dapat mempersempit pembahasan dengan menelisik pemahaman tentang konsep jihad dan penerapannya secara objektif. Melalui jendela ini kita dapat melihat mana gerakan Islam yang bergeser ke arah ekstrem sampai menjadi “teroris” dan mana yang masih bergerak di sisi “fundamentalis”.

Semua persoalan di atas masih harus ditambah dengan upaya media arus utama yang dikuasai oleh klik adidaya untuk terus-menerus menghembuskan tuduhan dan menciptakan labelisasi dan stereotip terhadap aspirasi umat Muslim Timur Tengah. Melalui labelisasi dan stereotyping itulah aspirasi ini ingin direduksi menjadi sekadar kemarahan tanpa makna, dan akhirnya dicap sebagai terorisme semata-mata.

Ketegangan antara Teori dan Praktik

Salah satu masalah besar yang sering dihadapi umat Islam ialah kesenjangan antara pemahaman tentang teori dan pengalaman dalam praktik. Dalam bukunya yang berjudul Khathawat ‘ala Thariq Al-Islam, M. H. Fadhlallah menunjukkan bahwa masalah ini merupakan sebab timbulnya ketegangan yang serius dalam tubuh gerakan-gerakan Islam. Demikian besarnya ketegangan itu sampai satu gerakan Islam dapat menafikan gerakan lain hanya karena perbedaan dalam penerapan konsep Islam yang telah disepakati bersama.[iv]

Akibat ketegangan ini, berbagai gerakan Islam memiliki cara yang berbeda-beda dalam merespons situasi objektif yang terjadi. Bahkan, satu gerakan dapat mengutuk aksi dari gerakan lain yang sebenarnya bersumber dari konsep yang disepakati bersama. Untuk memperjelas masalah, kita dapat melihat respons terhadap satu peristiwa yang sama dari berbagai gerakan yang mengatasnamakan Jihad yang diperintahkan oleh Islam tersebut. Ambil contoh respons terhadap pengeboman dua menara kembar WTC di awal milenium lalu. Meski polemik soal jihad telah ada sejak lama dalam khazanah pemikiran Islam, tapi serangkaian peristiwa pasca 11 September mengantarkan polemik ini dalam konteks yang lebih luas dan lebih serius.

Osama bin Laden, pucuk pimpinan dan ikon al-Qaedah yang menjadi organisasi induk dari berbagai gerakan Islam berbasis ideologi Wahabi, mengakui keterlibatannya dalam peristwa 11 September.[v]Dalam rekaman video lain yang ditayangkan sejumlah jaringan televisi internasional pada tanggal 27 Desember 2001, Osama bin Laden menyatakan bahwa, “terorisme atas Amerika layak untuk disanjung karena ia merupakan respons terhadap ketidakadilan, bertujuan untuk memaksa Amerika menghentikan dukungannya atas Israel, yang membunuh umat kita.”[vi]

Namun demikian, di sisi lain, kita menyaksikan sejumlah ulama Islam menentang jihad model Al-Qaidah atau Jamaah Islamiyah ini. Syaikh Yusuf al-Qardhawi, Muhammad al-Sayyid Thanthawi[vii]dan Pemimpin tertinggi Republik Islam Iran, Ayatullah Ali Khamenei,[viii] dan Ayatullah Ali al-Sistani sama-sama mengutuk aksi tersebut. Al-Sistani bahkan mengeluarkan fatwa yang memerintahkan seluruh Muslim untuk mematuhi hukum yang berlaku di tiap negara yang ditinggalinya. “Setiap Muslim dan Muslimah harus bertindak demi kepentingan tertinggi negara tempat tinggalnya dan menjaganya dari segala tindakan yang membahayakan.”[ix] Yang lebih menarik, dalam hampir semua peristiwa di atas maupun aksi-aksi serupa yang menyasar warga atau sarana sipil, Hizbullah Lebanon, selalu memberikan pernyataan kutukan. [x]

Nawaf al-Musawi, ketua departemen luar negeri Hizbullah, Lebanon, secara tegas menolak serangan terhadap warga sipil World Trade Center. Dia mengecam tindakan itu sebagai aksi terorisme. Pernyataan resmi Hizbullah mengutuk aksi Al-Qaeda yang menyasar masyarakat sipil New York, tapi tidak memberikan pernyataan soal serangan ke Pentagon. Hizbullah juga mengutuk rangkaian aksi pembantaian di Aljazair oleh kelompok bersenjata Islam GIA, serangan-serangan Al-Jama’ah Al-Islamiyyah, serangan pada para wisatawan di Mesir, pembunuhan Nick Berg,[xi] pengeboman Gereja Koptik di Aleksandria[xii] dan yang terakhir pengeboman Bandara Moskow.[xiii]

Beberapa Usulan

Melihat kompleksitas yang ada, maka beberapa usulan berikut dapat dipertimbangkan:

  1. Perlu perumusan definisi yang ilmiah dan komprehensif terhadap istilah fundamentalisme, radikalisme, ekstremisme dan terorisme.
  2. Kalangan tokoh gerakan Islam perlu segera merumuskan definisi dan batasan istilah-istilah kunci dalam Islam yang sering dikaitkan dengan terorisme dan aksi kekerasan, seperti amar makruf nahi munkar, jihad dan sebagainya.
  3. Hasil-hasil rumusan tersebut harus disosialisasikan secara luas dan dijadikan sebagai standar bersama.
  4. Gerakan-gerakan Islam perlu menutup ketegangan antara teori dan praktik dengan menghidupkan eksperimen-eksperimen yang beragam dan mencari pengalaman-pengalaman dari sebanyak mungkin kalangan lain.

Oleh Musa Alkadzim : Dosen dan Koresponden Lepas APTN Middle East Services


[i] George M. Marsden, “Fundamentalism and American Culture”, (1980)pp 4-5, dikutip kembali dari http://en.wikipedia.org/wiki/Fundamentalism.

[ii] David Stricklin, http://www.tshaonline.org/handbook/online/articles/itf01

[iii] http://en.wikipedia.org/wiki/Extremism

[iv] M. H. Fadhlallah, Khathawat ‘ala Thariq Al-Islam, Dar Al-Milak, Beirut (1987), hal. 51.

[v] http://www.cbc.ca/news/world/story/2004/10/29/binladen_message041029.html

[vi] Ibid.

[vii][vii]http://theamericanmuslim.org/tam.php/features/articles/muslim_voices_against_extremism_and_terrorism_part_i_fatwas/0012209

[viii]http://news.bbc.co.uk/2/hi/middle_east/1549573.stm

[ix]http://theamericanmuslim.org/tam.php/features/articles/muslim_voices_against_extremism_and_terrorism_part_i_fatwas/0012209

[x] Amal Saad- Ghorayeb, Hizbullah: Politics and Religion, Pluto Press, 2002, hal. 101.

[xi] Ibid.

[xii] http://www.english.moqawama.org/essaydetails.php?eid=13076&cid=265

[xiii] http://www.english.moqawama.org/essaydetails.php?eid=13282&cid=265