Sisi Feminin Presiden SBY

Posted on Updated on

Bagi saya, Presiden SBY memiliki sisi feminin yang mempengaruhi gaya komunikasi dan kepemimpinannya. Bagi saya hal ini menarik untuk dikaji karena sangat bertolak belakang dengan latar belakang karir kemiliterannya yang sangat maskulin.

Tapi tak perlu heran. Seorang lelaki akan selalu memiliki sisi feminin. Yang berbeda adalah derajat kefemininan itu. Sebabnya adalah lelaki memiliki hormon estrogen, hormon yang menyebabkan ciri-ciri kewanitaan pada kaum wanita. Kadar estrogen yang terlalu tinggi pada lelaki menyebabkan ia memiliki ciri-ciri kewanitaan dari segi fisik dan juga psikologis. Inilah yang sering disebut orang sebagai “sisi feminin” seorang pria. 

Ciri-ciri fisik yang menandakan seorang pria kelebihan estrogen misalnya dada yang agak menonjol dan kenaikan berat badan. Sedangkan dari segi psikologis seorang lelaki feminin cenderung lebih peka perasaannya dibanding pria rata-rata.

Bagaimana dengan presiden kita tercinta?

Saya melihat gaya komunikasi dan cara beliau menyikapi permasalahan bangsa sangatlah feminin. Yang paling aktual adalah cara beliau menyikapi sikap Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang telah mengkhianati kesepakatan koalisi dengan menentang kenaikan harga BBM.

Tidak terdengar satupun pernyataan langsung dari Presiden SBY. Beliau hanya menyampaikan “sinyal-sinyal” yang kemudian diterjemahkan oleh bawahannya di Partai Demokrat. PKS sendiri bingung menunggu pernyataan langsung dari SBY.

Gaya komunikasi “sinyal-sinyalan” ini sebenarnya sangat feminin. Bagi pria yang sudah beristri (atau berpacaran), tentu tahu bahwa pasangan anda kalau ada maunya lebih sering mengungkapkan dengan sinyal-sinyal. Enggan berkata terus-terang. Wanita sering beranggapan pria tahu apa yang dia mau hanya dengan sinyal-sinyal.

Hal inilah yang sering mengundang konflik antara pria-wanita. Gaya komunikasi pria maskulin adalah terus-terang, eksplisit. Pria tidak tahu apa yang ada di pikiran pasangannya jika hanya diberi sinyal-sinyal tanpa suara. Melainkan jika keduanya sudah menikah cukup lama, sehingga si pria sudah cukup peka dengan sinyal-sinyal tanpa perlu diteriaki oleh si istri.

Komunikasi politik presiden kita seringkali dilakukan dengan sinyal-sinyal tak jelas. Tidak eksplisit. Tidak maskulin. Hal ini tentu saja mengundang kebingungan orang yang diajak komunikasi, seperti PKS yang sekarang kebingungan: masih di dalam koalisi atau sudah dipecat? Ibarat dicerai tapi cerai gantung. Dicerai tidak, tapi dinafkahi juga tidak.

Anda tentu masih ingat dua tahun lalu (2010) ketika hubungan Indonesia-Malaysia sempat memanas gara-gara perselisihan perbatasan di sekitar Bintan. Suasana yang memanas memaksa Presiden SBY berpidato langsung di Cilangkap, di depan para jenderal TNI. Publik sudah menduga presiden akan mengumumkan perang, atau kalau tidak pasti akan mengumumkan kebijakan drastis yang memukul jiran kita itu.

Publik kecewa. Pidato presiden penuh dengan sinyal-sinyal tak jelas, pernyataan retorik yang semua orang sudah tahu, sampai-sampai ada pemerhati politik yang menyebut pidato itu lebih cocok disampaikan oleh jubir Pemerintah Malaysia. Publik dan pemerhati sibuk berdebat, mencoba menafsir apa yang Presiden SBY maksudkan dalam pidatonya.

Bertolak belakang dengan SBY, gaya komunikasi mantan presiden Jusuf Kalla sangat maskulin. JK ibarat sebuah buku yang terbuka (an open book), orang bisa memahami apa yang dia maksud dengan mendengar apa yang dia ucapkan. Tidak ada basa-basi.

Anda mungkin berdalih: SBY kan orang Jawa yang biasa berkomunikasi dengan simbol-simbol, sedangkan JK adalah orang Bugis yang blak-blakan. Bisa jadi hal ini benar.

Mari kita lihat Presiden Soeharto, seorang Jawa tulen yang pernah menjadi presiden kita selama 32 tahun. Sebagai seorang Jawa, gaya komunikasi beliau juga penuh dengan simbol-simbol alias sinyal-sinyal. Tanpa perlu dibentak, orang sudah tahu kalau Pak Harto berdehem saja artinya beliau tidak suka. Sampai ada yang bilang Pak Harto menyuruh orang cukup dengan senyuman saja. Itulah kenapa beliau disebut “The Smiling General”.

Lantas apa bedanya Pak Harto dengan SBY. Walaupun keduanya gemar berkomunikasi dengan sinyal dan simbol, Pak Harto sangat maskulin dari segi action. Jika sudah marah, beliau tidak segan-segan memerintahkan tindakan yang melanggar hak asasi manusia. Banyak orang ditangkap dan hilang ketika itu. Sebagian dari anda tentu masih ingat kebijakan petrus (penembakan misterius) puluhan tahun lalu yang mentarget para terduga kriminal. Ada saja mayat tanpa identitas dengan badan penuh tato ditemukan di pinggiran Jakarta. Walaupun melangar hak asasi manusia, tapi masyarakat merasa lebih aman dengan kebijakan maskulin nan kontroversial itu.

Presiden SBY lebih feminin dalam mengambil tindakan. Sangat hati-hati dan penuh pertimbangan dengan meminimalkan risiko. Kadang-kadang melibatkan emosi sampai pernah menangis. Dan ketika merasa terganggu, beliau suka membeberkannya di muka umum agar rakyat menaruh simpati kepadanya. Sesuatu yang penuh ciri feminin.

Selama 32 tahun memerintah, saya tak pernah melihat Pak Harto menangis, kecuali ketika istrinya tercinta Bu Tien mangkat. Saya tak pernah melihat Pak Harto curhat gara-gara merasa terancam oleh orang ini atau itu. Karena beliau tahu di tangannya ada kendali terhadap ratusan ribu tentara dan beliau sebagai Panglima Tertinggi ABRI punya wewenang menggerakkan mereka tanpa perlu curhat sana-sini. Di mata saya Pak Harto feminin dari segi komunikasi, tapi sangat maskulin dari segi action.

Saya berharap setelah membaca tulisan ini kita semua bisa memahami kenapa Presiden SBY susah dipahami. Setiap pria punya sisi feminin, dan tidak berdosa bagi pria untuk punya sisi feminin. Tugas kita untuk memahami jika sisi feminin beliau sedang berada di masa puncak.  Ibarat suami yang harus penuh pengertian jika istrinya sedang bad moodmenjelang menstruasi. Kan enak jadinya kalau pemimpin memahami rakyat, dan rakyat memahami pemimpinnya.

Bimo Tejo @Kompasiana