Rasionalitas Jokowi VS Airmata Rhoma Irama

Posted on Updated on

Railbus ini melintasi salah satu sudut kota Surakarta, lihatlah tatanan kota ini, jalanannya bersih, tata kotanya tertib, taman-tamannya indah. Oleh Jokowi Railbus akan dibangun di Jakarta dan Busway akan dikembalikan fungsinya sebagai ‘media konversi’ dari kendaraan pribadi ke kendaraan MRT (Mass Rapid Transport). 

Ambisi terbesar Jokowi adalah mengurangi jumlah kendaraan bermotor pribadi di jalanan publik dan mengalihkan pengguna kendaraan pribadi ke MRT, untuk itu MRT yang nyaman adalah perlu, pengendara kendaraan cukup memarkirkan di pool-pool busway atau di tempat strategis, ingin ke Plaza Senayan,  cukup naik Monorel dari Kuningan, ingin ke Ancol dari Ragunan cukup naik Railbus, seluruh halte-halte akan diubah menjadi halte yang ramah manusia, bukan seperti halte busway sekarang yang bernada kaku.

Salah satu agenda penting Jokowi adalah mengatur lalu lintas sesuai dengan peruntukannya. Di Jakarta pada masa pemerintahan Foke, ada ibu-ibu sampai menantang kendaraan bermotor untuk tidak liwat trotoar, bahkan ada seseorang yang berbaring di tengah trotoar agar sepeda motor tidak merampas hak pejalan kaki, kenapa masyarakat sampai turun tangan? karena tidak adanya kesadaran dari Pemda untuk bergerak, para penggede Pemda lebih asik di dunianya sendiri, dunia para elite pejabat, pejabat-pejabat DKI pamer kemewahan dengan kompleks-kompleks elite pejabat pemda DKI yang bertaburan di seluruh kota, sementara tata kota menjadi semrawut dan hancur-hancuran.

Jokowi datang ke DKI Jakarta untuk beresin ini, beresin persoalan-persoalan yang gagal dipahami para penggede Pemda DKI, persoalan-persoalan yang diabaikan soal tata ruang kota DKI, Jalan raya DKI bukan lagi ajang pembantaian dimana hampir tiap hari ada saja manusia yang terbunuh di jalan raya karena hancurnya tatanan lalu lintas kita. Jokowi menawarkan lalu lintas bukan sebagai tempat pembantaian tapi tempat pertemuan yang ramah manusia.

Jokowi akan menawarkan taman-taman kota, seperti ia membangun taman-taman kota di Solo, dalam taman itu ada sosialisasi, anak-anak kita bisa berlatih biola di tengah taman, berlatih melukis dan membaca puisi di taman tengah kota. Taman-Taman kota akan jadi ruang publik yang mempertemukan warga dengan warga lainnya, ‘tempat-tempat rehat warga DKI bukan lagi Mall-Mall yang sejak masuk tempat parkir sudah memungut biaya, tapi ruang publik, ruang bersama tanpa penindasan biaya-biaya skim kapitalisme.

Perubahan politik untuk mendapatkan perubahan sejarah masyarakat adalah PERLU disaat ini, karena dengan perubahan Jakarta menjadi kota yang ramah, ramah pada orang tua, ramah pada anak-anak dan ramah pada kemanusiaan.

Sekarang tinggal anda pilih, Rasionalitas Jokowi atau Air Mata Oma Irama? …………

(Anton DH Nugrahanto).