Minyak Tergenang di Syiah Sampang

Posted on Updated on

Pada Minggu malam, 26/08/2012, saya menulis satu artikel terkait kerusuhan sektarian di Sampang dengan judul, “Beban Sejarah Syiah Sampang. Dalam artikel itu, saya menyoroti bagaimana beban sejarah pertikaian Sunni-Syiah masa silam harus ditanggung oleh komunitas Syiah di dunia, tidak hanya di Sampang.

Kini, berita mengejutkan datang dari hasil investigasi Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras). Media online Okezone.com, 8/03/2012, merilis berita temuan Kontras Surabaya tentang fakta-fakta bahwa konflik Sampang ini sengaja diciptakan untuk eksplorasi minyak dan pengembangan investasi di kawasan tersebut.

Meski menolak disebut sebagai hasil akhir, Kontras setidaknya menemukan adanya skenario yang mengarah kepada pelancaran eksplorasi minyak, di antaranya ialah pembangunan jalan menuju tempat eksplorasi. Jalan itu, dalam data yang didapat Kontras, menabrak Dusun Nangkernang sekitar 2-3 kilometer dari jalan utama. Selain itu, dugaan diperkuat dengan adanya survei Seismik oleh pihak Pertamina terhadap dua rumah milik warga. Sehingga, menurut Kontras, konflik ini memang sengaja diciptakan untuk “mengusir” warga yang tinggal di Dusun Nangkernang agar mengosongkan kampung. Secara kebetulan warga yang tinggal di kawasan itu sebagian besar adalah penganut Syiah di bawah pimpinan Ustad Tajul Muluk.

Meski temuan dan dugaan Kontras tersebut dirilis pada bulan Maret 2012, nyatanya 5 bulan kemudian, yaitu Agustus 2012, warga Syiah kembali menjadi korban kekerasan dengan isu SARA. Tercatat 2 korban tewas akibat konflik terbaru ini.

Jika dugaan Kontras itu benar adanya, maka peristiwa Sampang seakan mengulang kembali teori konspirasi di balik kekerasan etnis Rohingya dan perang yang dilancarkan oleh Amerika terhadap Afghanistan dan Irak. Di mana, menurut teori konspirasi, apa yang terjadi di balik kekerasan etnis Rohingya, dan kobaran perang “Paman Sam” di Afghanistan dan Irak adalah demi alasan penguasaan terhadap sumber alam, yang kemudian dibalut dengan berbagai dalih.

Terlepas dari benar tidaknya temuan Kontras Surabaya di atas, konflik di Sampang, sekali lagi, harus dipandang sebagai kegagalan Negara, beserta aparaturnya, dalam mengelola keamanan demi mengatasi berbagai dampak negatif yang ditimbulkan oleh hembusan isu SARA.

Konflik Sampang juga harus disoroti sebagai fenomena wujud kedangkalan pemahaman agama, yang hanya mengupas luarnya ketimbang radikal atau menukik pada akarnya. Di mana perbedaan agama atau keyakinan di Indonesia sering digunakan untuk mengobarkan api permusuhan dan kebencian, seperti tuduhan aliran sesat, dan lain sebagainya.

Beberapa kasus kekerasan bermotif agama di Indonesia yang menjelaskan kedangkalan dalam pemahaman beragama terefleksi ketika suatu kelompok yang mengatasnamakan agama melakukan aksi penyerangan terhadap kelompok agama atau keyakinan lainnya. Apa dasar pegangan yang bersarang dalam isi kepala kelompok penyerang itu?.
Pertama, dalam sesama Islam, para penyerang mendasarkan pikiran
mereka dengan berpegang pada tuduhan “aliran sesat”.
Kedua, terhadap kelompok di luar Islam, pikiran mereka menuduh “Kristenisasi” atau ancaman “pemurtadan”.
Jika memang kenyataan berkata demkian, seharusnya urusan-urusan demikian diserahkan kepada aparat yang berwenang, dan bukan bertindak secara personal atau kelompok, yang mengakibatkan rusuh komunal.

Kritik juga dialamatkan kepada MUI, selaku yang sering dianggap sebagai pemegang otoritas keagamaan di Indonesia. Seharusnya, selain memfatwakan sesat, MUI mencari dan memikirkan solusi akibat yang mungkin ditimbulkan oleh fatwanya itu. Dengan kata lain, MUI jangan hanya berhenti pada fatwa sesat terhadap satu kelompok saja, namun tak pernah mengeluarkan fatwa terkait kelompok-kelompok yang sering melakukan penyerang dengan mengatasnamakan agama.
Jika, pada kasus kali ini, aparat yang berwenang tidak bertindak tegas, dan MUI hanya “duduk” manis tanpa mengeluarkan fatwa terhadap penyerangan tersebut, maka kita tinggal menunggu saja, kira-kira kapan “belati” bernama agama itu kembali menusuk tubuh Ibu Peritiwi, dan “darah” anak Bangsa akan terus mengucur, membahasi tanah negeri ini. (IRIB Indonesia / Kompasiana / SL)

Senin, 2012 Agustus 27 20:07
Oleh: Dewa Gilang