Tanda-tanda Keruntuhan Peradaban Barat (Bagian Pertama)

Posted on Updated on

Krisis dalam sistem kapitalisme mulai terjadi ketika ratusan warga Amerika Serikat pada tanggal 17 September 2011 berkumpul di taman Zuccotti Wall Street, New York, dan meneriakkan slogan “Kami 99 persen”.

Gerakan yang dikenal dengan “Occupy Wall Street” itu dengan cepat merambah ke berbagai kota di Amerika bahkan meluas ke sejumlah negara yang menerapkan kapitalisme. Penyebab munculnya gelombang protes tersebut tidak lepas dari meluasnya kemiskinan, pengangguran, kesenjangan sosial, dan ketidakadilan di masyarakat serta ketidakpuasan publik terhadap kebijakan haus perang para penguasa.

Pelbagai kalangan di Amerika seperti mahasiswa, guru, dosen, buruh, perawat, seniman dan lainnya bergabung dalam gerakan Occupy Wall Street (OWS) . Peserta demonstrasi yang berasal dari pelbagai kalangan dan kelompok masyarakat menjadi keistimewaan tersendiri bagi gerakan ini dibandingkan dengan gerakan-gerakan protes lainnya selama beberapa tahun terakhir.

Para pengunjuk rasa yang memusatkan konstentrasi di depan Bursa Saham New York di Wall Street yang menjadi simbol kemegahan sistem ekonomi kapitalis menunjukkan bahwa mereka memahami peran dari lembaga-lembaga finansial dan bank-bank kaum kapitalis dalam urusan politik, ekonomi dan sosial di Amerika.

Biasanya demonstran hanya memprotes ketidakefesien ekonomi kapitalis seperti pengangguran, inflasi dan tingginya pajak, namun tidak demikian dengan gerakan OWS. Gerakan ini langsung memprotes prinsip dan dasar kapitalisme. Hal itu terlihat dalam slogan-slogan yang mereka usung seperti “Wall Street harus di hancurkan sebelum menghancurkan dunia” dan “Dunia cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap orang, tetapi tidak cukup memenuhi ketamakan setiap orang”.

Dengan melihat fakta yang terjadi, tenyata tuntutan pemrotes tidak terbatas pada sistem ekonomi yang diterapkan Amerika, namun mereka menuntut lebih dari itu yaitu mempermasalahkan dasar dari sistem ekonomi kapitalis.

Situs Chicago Tribune pada tanggal 4 Januari 2012 dalam laporannya menulis, jutaan orang di Amerika meyakini bahwa sistem yang berlaku di negara mereka telah hancur dari sisi internal dan tidak mampu memberikan solusi dalam menyelesaikan ketimpangan sosial dan ketidakadilan yang tengah mengubah kondisi mendasar di Amerika, bahkan jika gerakan OWS berhenti besok, sistem itu tidak akan mampu berbuat apa-apa. Selain itu, OWS juga menimbulkan pertanyaan mendasar bagi warga Amerika terkait sistem ekonomi dan politik yang menguasai negara mereka.

Mengingat krisis yang terjadi di negara-negara penganut kapitalisme selama beberapa tahun terakhir, maka tak ada salahnya jika kita menelisik sekilas tentang dasar dan prinsip pemikiran peradaban Barat sebagai salah satu faktor penyebab munculnya krisis ini.

Dalam sepanjang sejarah, Barat telah melewati berbagai periode dan yang kita saksikan saat ini dalam peradaban Barat berasal dari masa Renaisans(abad ke-14-17 Masehi). Sejak akhir abad pertengahan, kemajuan yang bergerak dari timur dan pantai Mediterania menuju pantai-pantai di Barat telah membuka mata bangsa-bangsa di kawasan itu akan sebuah dunia baru, dunia yang disebut dengan Renaisans.

Renaisans dikenal dengan gerakan budaya yang terbentuk di Eropa pasca abad pertengahan dan memunculkan kapitalisme. Kemunculan Renaisans telah mengubah semua sisi kehidupan Barat. Manusia di masa Renaisans adalah manusia yang membuang semua dasar pengetahuannya di abad pertengahan dan menuju kepada definisi baru tentang agama, manusia dan ilmu, karena di awal kekuasaan gereja, semua dipaksa taat penuh kepada gereja dan tidak ada tempat untuk mengungkapkan pemikiran dan argumentasinya.

Syahid Murtadha Mutahhari, seorang pemikir Iran terkait sejarah Barat dalam bukunya yang berjudul “Penyebab Kecenderungan ke Materialisme” menulis, pada abad pertengahan di mana masalah Tuhan berada di tangan para pendeta, telah muncul serangkaian pemahaman kekanakan yang tidak pernah sesuai dengan fakta, sehingga kaum cendekiawan dan mereka yang memiliki pandangan luas tidak puas dan bahkan menimbulkan kebencian dan penentangan terhadap ajaran ketuhanan. Gereja menggambarkan Tuhan seperti manusia dan mengenalkan-Nya dalam batasan-batasan sebagai manusia (makhluk). Warga Eropa yang melihat ajaran gereja tidak sesui dengan tolok ukur ilmu mulai mengingkari dasar yang diajarkan gereja.

Ada pelbagai faktor yang menyabkan warga Eropa meninggalkan gereja ,di antaranya; tidak adanya perhatian terhadap manusia dan kebutuhannya, ilmu dan ilmuwan justru ditolak dan kepribadian serta hak-hak manusia tidak dipenuhi. Faktor-faktor tersebut kemudian menggiring mereka secara bertahap untuk menentang gereja.

Dalam kondisi tersebut, terbentuklah dasar peradaban Barat saat ini seperti sekularisme, humanisme dan liberalisme. Munculnya faham-faham ini secara bertahap menyebabkan masyarakat mengesampingkan agama dan menggantikannya dengan filsafat, sains, dan kekuasaan. Dalam faham-faham ini, manusia dijadikan poros bagi semua hal tanpa memperhatikan fitrahnya yang senantiasi mencari Tuhan, bahkan manusia diposisikan sebagai Tuhan.

Tidak adanya perhatian terhadap agama danTuhan memiliki konsekuensi buruk bagi warga Eropa. Masalah terbesar yang timbul dari hal itu adalah krisis spiritual seperti yang dihadapi oleh peradaban Eropa saat ini. Mereka menghadapi berbagai krisis mental dan sosial karena selama bertahun-tahun mencampakkan agama dan tidak memenuhi kebutuhan spiritualnya. Bahkan pesatnya kemajuan peradaban Barat dan kehidupan modern mereka tidak mampu menjawab kondisi itu.

Cornell West, seorang dosen di Universitas Harvard di Amerika terkait krisis spiritual warga Amerika mengatakan, jika kita melihat secara teliti masyarakat di Amerika, kita akan menemukan seberapa besar warga negara ini mengalami kemiskinan spiritual, kehampaan dan kevakuman moral. Meningkatnya aksi bunuh diri dan aborsi membuktikan kemiskinan spiritual masyarakat.

Individualisme sebagai salah satu unsur utama dalam faham liberalisme telah memprioritaskan kebutuhan individu di atas kebutuhan umum dan bahkan menegaskan kepentingan individu. Berdasarkan pemikiran ini, kepentingan pribadi didahulukan dari pada kepentingan masyarakat. Seorang individualis ekstrim yang berada di masyarakat yang dikuasai oleh sistem ekonomi kapitalis menyebabkan renggangnya hubungan sosial dan kekeluargaan, saling menjahui antara satu dan lainnya serta terkucilnya masyarakat dan hilangnya nilai-nilai kemanusiaan dan moral.

Noam Chomsky, pakar bahasa dan kritikus Amerika dalam bukunya yang berjudul “Occupy” menulis, prestasi utama gerakan Occupy Wall Street adalah melahirkan sebuah komunitas di mana komunitas ini tengah beraktivitas, saling mendukung, dan menjaga satu sama lainnya. Hal ini sangat penting khususnya bagi masyarakat seperti masyarakat Amerika yang cenderung mengucilkan diri dan telah kehilangan solidaritas serta tidak memiliki struktur sosial yang berpihak kepada masyarakat.

Menurut Chomsky, salah satu keberhasilan nyata dari gerakan OWS adalah masyarakat tidak menerima lagi kondisi saat ini. Mereka bergerak bukan untuk diri mereka tetapi untuk orang lain, masyarakat, dan generasi mereka di masa mendatang. (IRIB Indonesia/RA)

Iklan