Hei, Putra Garuda: Bersatulah!

Posted on Updated on

Waspadalah karena musuh tidak pernah tidur. Bersatulah hai putra garuda, jangan sampai merah putih robek oleh ulah musuh!

 
INDONESIA adalah negeri pejuangan dan pengorbanan. Berapa banyak pengorbanan harta dan nyawa untuk terbentuknya negeri ini. Beragam suku dan agama, beragam bahasa dan kepercayaan, dari berbagai etnis dan kepulauan, semuanya pernah ikut berjuang. Semua bersatu dalam upaya memerdekakan diri dari penjajah, sekaligus mendirikan bangsa yang bersatu, Bangsa Indonesia.
Perjuangan yang dilakukan para pendiri bangsa itu tidaklah mudah. Para pejuang dahulu bersusah payah mengusir penjajah. Pengorbana harta benda tidaklah terhitung, dan ribuan nyawa pun melayang. Pengorbanan itu semua itu demi terbentuknya negara yang berbhineka tunggal ika. Sebuah impian bangsa yang besar, yang di dalamnya semua anak bangsa, tanpa memilih dan memihak, hidup rukun, saling mengisi kekurangan dan menyulam apa yang robek dari merah putih tercinta.

Benar apa yang dikatakan Bung Karno dahulu, bahwa setelah mengusir penjajah, bangsa ini akan menghadapi penjajahan jenis baru. Penjajahan model baru itu adalah bangsa Indonesia dihadapkan terhadap musuh negara dari dalam. Anak bangsanya sendiri yang mengangkangi Pancasila sebagai dasar negara dan mengkhianati amanah UUD 45.

Korupsi merajalela, penjualan aset negara besar-besaran terjadi, asing diberikan kebebasan menginfiltrasi bangsa ini sampai ke sendi-sendi terdalam negara; sumber daya alam hanya menguntungkan korporat asing dan kantong pejabat berwenang sedangkan rakyat hanya mendapatkan limbah beracun sisa olahan; pejabat kehilangan nurani tidak peduli dengan rakyat yang memilihnya; wakil rakyat bergelimangan harta tapi miskin moral;  pemangku negara hanya peduli dengan diri, kelompok, golongan dan partainya saja. Pemimpin tidak amanah dan hilang keberanian sedangkan ulama kehilangan peran dan wibawanya.

Semuanya menjadi ciri akan bangkrutnya negara besar ini. Bangsa yang berlumur darah pengorbanan dan beratnya perjuangan kini dalam kubang kehancuran.

Bangsa yang besar karena terdiri dari beragam suku dan bahasa, diikat erat dalam bingkai Pancasila dan sama-sama bernaung di bawah teduhnya sayap garuda, sekarang diambang perang saudara. Kelompok yang lebih besar merasa lebih berhak berkuasa, suku mayoritas sok berhak menguasai negara, agama kebanyakan menjadi alasan untuk mengusir kepercayaan lain — meski hanya berbeda pandangan dalam penafsiran. Keragaman dipahami keseragaman, berbeda dianggap bukan bagian dari negara.

Rusaklah kesucian Bhineka Tunggal Ika sebagai sendi bernegara. Hilang sudah arti perjuangan para syuhada zaman Kemerdekaan. Kini tinggal puing sejarah, bukan? Dimana lagi arti berbeda tapi tetap satu jua, jika yang ada pertengkaran sesama saudara sebangsa?

Kasus terkini yang menjadi keprihatinan kita semua adalah penyerangan yang terjadi di Sampang Madura. Bagaimana masyarakat yang mayoritas mau diprovokasi dan dipersenjatai untuk merusak, membakar dan membunuh kelompok minoritas, hanya karena berbeda sedikit dari umumnya masyarakat yang ada di sana. Meskipun minoritas itu sudah puluhan tahun mengamalkan ajaran kepercayaannya dan tidak pernah ada masalah sebelumnya.

Yang lebih mengerikan lagi, ada upaya-upaya pihak tertentu untuk merelokasi minoritas yang katanya ‘berdeda’ tadi dari tempat kelahirannya dan memisahkan paksa mereka dari tanah, air, pohon, udara, batu, sungai, ternak dan semua yang mereka miliki, padahal selama ini mereka hidup dan besar dari alam tempat mereka berada sekarang, titipan nenek moyangnya.

Ide gila yang sangat tidak masuk akal ini, justru diusulkan oleh pihak pemerintah sendiri, hanya karena ada legitimasi dan dorongan pihak ulama tententu yang sudah terkontaminasi pemikiran Wahabi takfiri, kaum sesat pikir yang gemar melempar cap kafir.

Hal ini pula yang mengundang kritik tajam para tokoh pemersatu bangsa, cendikiawan yang memiliki visi kebangsaan. Sampai-sampai Mahfud MD yang asal Madura angkat bicara, menurutnya ide relokasi bertentangan dengan hak asasi. Memang bisa kita bayangkan jika hanya karena berbeda kepercayaan dan keyakinan dari mayoritas kemudian selalu dan mesti direlokasi? Betapa akan kacau dan carut marutnya negeri yang indah ini!

Kita semua sebagai anak-anak bangsa perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama pihak-pihak yang berwenang mengamankan negara, akan adanya konspirasi musuh-musuh bangsa terutama anasir asing yang mengincar sumber daya alam Indonesia yang melimpah. Mereka menciptakan konflik sesama supaya bangsa ini sibuk sendiri dan lalai dengan makar mereka. Kita ramai bertikai sedangkan musuh enak-enakan menikmati dan mengeruk kekayaan negara kita.

Sudah banyak contohnya di berbagai negara; Irak, Afganistan, Libanon, Libya,dan negara-negara Amerika latin. Amerika dengan Zionis menciptakan konflik sektarian, perang antar agama, permusushan Sunni-Syiah atau membiayai separatis di sebuah negara, sedangkan tujuannya adalah kekayaan alam sebuah negara sebagai target utama.

Pemimpin Revolusi Islam Iran, Sayyid Ali Khamenei, di akhir Ramadhan yang lewat telah mengingatkan akan plot musuh (Amerika-Zionis) yang akan semakin berbahaya dari hari-hari sebelumnya. Indonesia adalah mayoritas Muslim maka sangat perlu mewaspadai makar musuh kemanusiaan, sebagaimana yang diingatkan Sayyid Ali Khamenei!

Indonesia begitu kaya, maka jangan heran menjadi target perebutan korporasi kapitalis. Bukankah Indonesia sudah di kepung semua pangkalan militer Amerika dari berbagai arah?

Waspadalah karena musuh tidak pernah tidur. Bersatulah hai putra garuda, jangan sampai merah putih robek oleh ulah musuh! (IslamTimes/sa)

Iklan