Hipnotis dan Tsunami Dolar

Posted on

Dinamika politik global mengajarkan, bila ingin melihat gelegar hegemoni  — kekuasaan tertinggi — suatu negara atas negara-negara lain di dunia, setidak-tidaknya melalui dua aspek utama. Pertama, dari nilai mata uangnya dan juga intensitas pertukarannya di dunia. Kedua, dari produk negara dan bangsa tersebut baik yang bersifat materi (produk fisik seperti pakaian, makanan dan minuman, mesin dsb) maupun non materi (budaya, nilai, gaya hidup dst) dikonsumsi orang dimana-mana. Itulah kelaziman yang sering terjadi, meski hal itu cuma sekedar asumsi namun seolah-olah dianggap teori yang benar.

Terkait judul di atas, dalam rangka mengurai masalah uang kertas, maka macam apa dan dimana pun ia berlaku,  dahulunya bermula dari suatu kesepakatan logika, kemudian  dikembangkan melalui berbagai perjanjian-perjanjian resmi hampir di semua negara. Intinya: bahwa setiap uang kertas dicetak harus di-back-up atau dijamin emas dalam perbandingan tertentu. Dengan demikian, hakiki uang kertas hanya berfungsi “sebagai kwitansi” dari suatu mekanisme resmi penyimpanan emas. Inilah titik awal.

Pada dinamika yang berkembang, terdapat “pergeseran paradigma” dalam mengelola uang. Ia tak lagi dijamin oleh emas, akan tetapi diubah menjadi obligasi, surat berharga dan lainnya sebagai jaminan dengan jenis dan aneka kertas. Dibanding dulu, sepertinya serupa tetapi sejatinya tidak sama, sebab motivasi dan kepentingan sudah berbeda. Lalu, guna menguatkan “kerja” paradigma itu, maka berbagai asumsi, teori  dan pendapat baru dibangun oleh para pakar sebagai pembenar guna mendukung mekanismenya. Inilah yang  terjadi di dunia. Beredarnya uang cuma sekedar berjamin kertas! Istilahnya, kertas dijamin oleh kertas!

Ada beberapa contoh negara, dimana AS salah satunya bahkan ia adalah operator penggagas. Pertanyaan retorika muncul, apakah republik tercinta ini termasuk negeri “penjamin kertas dengan kertas”? Retorika ini tidak perlu jawaban agar tulisan tak ilmiah ini bisa dilanjutkan.

Dan AS, termasuk negara yang melepaskan diri dari perjanjian awal (baca: The Fed dan Dolar AS, Seluk Beluk Dominasinya di Dunia di http://www.theglobal-review.com), kemudian mencetak uang sebanyak-banyaknya tanpa berjamin emas sebagai bekal. Ia keluar dari perjanjian Bretton Woods tahun 1971-an. Maka itulah efek hegemoni sebagaimana disinggung pada awal tulisan ini, artinya berbagai produknya dikonsumsi dimana-mana dan dolar merupakan idola. Menjadi alat tukar dunia. Dengan demikian, setiap lembar dolar dan berapapun nilai cetak di atasnya, sesungguhnya hanya seharga “biaya cetak”, cuma 4 sen dolar saja. Gila!

Lantas, lembaran dolar pun ditebar ke segenap belahan dunia, ditukar dengan berbagai komuditas, seperti gas, minyak bumi, emas, batu bara, bahkan lebih canggihnya lagi, ia dibagi-bagi dalam bentuk hutang ke negara-negara berkembang, dan kemudian setiap tahunnya dibayar dengan hasil keringat rakyat suatu negara penerima utang. Lebih ekstrim lagi, banyak negara penerima utang sampai menjual aset-aset negara kepada pemerintah atau para pengusaha pemilik dolar.

Betapa mengerikan, ketika pencetak dolar ternyata bukanlah Departemen Keuangan AS atau Institusi Negara (seperti Bank Indonesia di Indonesia), tetapi diterbitkan oleh lembaga independen di luar kontrol pemerintah AS. Ia bernama Federal Reserve Bank of New York atau The Fed. Pertanyaan siapa pemilik atau dibelakang The Fed, sudah dibahas sendiri dalam tulisan lain (baca artikel: The Fed dan Dolar AS, Seluk Beluk Dominasinya di Dunia).

Ada pernyataan Umar Ibrahim Vadillo, seorang penulis buku The End of Economic, dimana ruh dan semangatnya menginspirasi topik tulisan ini, yakni :

(1) “Lihatlah ini (Umar Vadillo memperlihatkan uang logam dan kertas),  sebenarnya ini hanyalah ilusi. Begitu banyak orang berlomba meraih kertas dan ilusi ini. Mereka seperti terhipnotis untuk meraih secarik kertas yang tidak berguna ini. Kita seperti bertindak untuk menggapai sesuatu yang tidak ada (nyata)”

(2) “ … hanya dengan memproduksi tumpukan kertas (dolar), AS dapat membeli banyak hal tanpa perlu bekerja. Yang mereka butuhkan hanya membuat seluruh dunia terhipnotis dengan sistem yang mereka terapkan”.

Sebagai contoh pembanding antara uang kertas dengan koin emas guna membuktikannya, misalnya sekitar tiga tahun lalu, nilai dinar emas berada pada kisaran tiga hingga empat ribu rupiah, namun kini terlihat harganya mencapai delapan ribu rupiah. Mungkin kedepan, harga koin emas akan naik lagi. Itu berarti pemegang rupiah (kertas) pun sebenarnya merugi sekitar 70% selama tiga tahun ini, oleh karena mata uang kertas terbuka terhadap inflasi. Artinya untuk tingkat kestabilan lebih aman koin dinar daripada uang kertas. Hal demikian itu akan terus berlanjut dari tahun ke tahun dan berulang.

Tatkala tahun 2007-an berkembang rumor di beberapa negara tentang perlunya Mata Uang Global yang diharapkan lebih stabil sebagai pengganti dolar. Isue tersebut sempat membuat “panik” otoritas AS era Bush Jr. Dan ia pun menentang keras wacana uang global. Lalu, (mungkin) dirancanglah ide mencetak mata uang (dolar AS) berseri-seri ganda atau istilahnya “bodong”. Hakikatnya, inilah teknik pencucian uang (money laudring), akan tetapi dikemas melalui Forum Internasional (G-20).dalam ujud dana utangan kepada negara berkembang yang juga terkena imbas akibat krisis global. Bayangkan, tahun 2008-an IMF menjual sebagian emasnya ke pasaran, namun usai pertemuan G-20 di London, tiba-tiba ia menebar dolar. Luar biasa. Inilah merupakan taktik terbaru AS dalam menghadapi krisis global. Semakin banyak menebar dolar berdalih pinjaman, semakin banyak AS menerima “uang segar” dari cicilan pengembalian negara berkembang, si penghutang.

Hasil pertemuan G-20 memang mengkulminasi suntikan dana sebesar 1,1 triliun dolar AS kepada lembaga multilateral dan IMF guna membantu memerangi krisis global. Kemudian keluarlah paket stimulus bagi negara-negara berkembang. Dan mereka akan mendapat “uang segar” dari negara penghutang. Bahkan baru-baru ini, AS masih menggelontorkan dana sebesar $100 juta untuk membiayai program militernya di sejumlah negara seperti Hungaria, Polandia, Rumania dan Lithuania yang naik 33 persen dari tahun lalu. AS memang sangat bergantung kepada sekutu Eropa Timur dalam perang di Afghanistan, dan menyuap negara-negara Eropa Timur untuk melanjutkan pertempuran perang di negara itu.

Hungaria akan menerima $13,3 juta yang meningkat dari $2,87 dari tahun lalu, sementara Polandia akan menerima $14 juta, Rumania meningkat menjadi $14.3 juta dari $7,3 juta ,dan Lithuania akan mendapatkan Rp 12,8 juta, dari $5,7 juta. Gelombang dana besar itu mengalir di saat ekonomi AS menghadapi krisis utang nasional melebihi $15 triliun, setelah satu dekade menjalani “perang mahal” di Afghanistan dan Irak. AS kini mempersiapkan pemangkasan anggaran pertahanan sebesar $487 miliar selama 10 tahun ke depan.

Barangkali tujuan pokok lainnya (tersirat) agar wacana global guna mengganti dolar dengan mata uang lainnya menjadi padam tak menjalar. Ahay, betapa dolar benar-benar menghipnotis dunia!

Pertanyaan menarik timbul, hingga kapan mekanisme ‘bergajulan” ini terus berlangsung? Singkat kata adalah: Tak lama lagi! Yah, tak bakal lama lagi!  Artinya ketika permainan hipnotis dan ilusu tentang dolar telah terbongkar dan menyebar seantero dunia, ketika semua negara di dunia tidak lagi percaya terhadap dolar, maka niscaya berakhir sudah permainan hipnotis The Fed, si operator dollar AS, setelah sekian dekade menguasai dunia. Dan agaknya telah dimulai oleh Cina dan Jepang pada Januari 2012 lalu, disusul Rusia, Iran dan lainnya.

Sesungguhnya, usaha money laundring ini  mudah digagalkan jika negara-negara menolaknya. Terutama bagi negara penerima stimulus (pinjaman) dalam ujud dolar. Terkecuali ia bersikap fair mendukung setiap percetakan dolar dengan jaminan emas. Dengan demikian, sekarang ini sangat banyak bahkan berlimpah kertas dolar beredar tidak sebanding dengan cadangan emas AS. Atau bahkan (mungkin) tanpa jaminan emas sama sekali, atau (mungkin) dijamin oleh obligasi fiktif. Itulah yang kini sedang terjadi.

AS mencetak kertas-kertas uang dengan harapan bahwa negara-negara berkembang mempercayai kertas dolarnya masih mempunyai nilai. Jajaran Eropa sudah mulai tidak percaya. Cina, Iran, Jepang, Rusia dan beberapa negara Amerika Latin juga enggan percaya. Bahkan Hamas tempo doeloe ketika 2008-an mendapat berbagai sumbangan dunia akibat serangan membabi-buta oleh Israel, berani menolak dolar. Lalu ia membagi-bagikan euro kepada warga Palestina. Tetapi, kenapa justru banyak negara di Asia dan Afrika masih mempercayainya?

Dan diperkirakan, dalam waktu relatif tidak terlalu lama – ketika berbagai negara – secara serentak tidak menggunakan dolar sebagai nilai tukarnya, maka niscaya muncul “tsunami dolar”. Seperti banjir bandang tak terbendung, si dolar mudik menerjang negeri asalnya. Entah kapan terjadi. Tidak lama lagi?