Peradaban dan Kebudayaan Islam; Transfer Pengetahuan ke Islam

Posted on

Pada dasarnya, perkembangan ilmu di masa itu masuk ke dunia Islam melalui tiga negara, yakni Yunani, India dan Iran. Ketiga negara itu dapat dikatakan sebagai pintu kemajuan ilmu yang berperan penting dalam peradaban dunia Islam. Yunani merupakan salah satu sumber penting yang melalui negara itu, ilmu logika masuk ke dunia Islam. Umat Islam pada umumnya, mengenal ilmu-ilmu logika dengan bantuan buku-buku yang diterjemahkan dari bahasa Latin dan Suryani. Orang-orang yang berperan mentransfer ilmu dari Yunani adalah kalangan Kristen berbahasa Suryani yang berasal dari Irak dan Syamat, khususnya Harran yang saat itu dikenal dengan kawasan Urfa, selatan Turki. Mereka memeluk agama Islam yang kemudian berperan penting dalam menyemarakkan gerakan penerjemahan yang didukung penuh oleh khalifah-khalifah masa itu. Sebagian ilmu Yunani yang diterima umat Islam juga berasal dari Iskandaria yang juga dikenal dengan istilah Alexander yang saat itu menjadi pusat besar ilmu.

Umat Islam menggali berbagai ilmu dari Yunani khususnya di bidang matematika, perbintangan, kedokteran dan ilmu-ilmu alam. Mereka juga mempelajari matematikaBatlamus(Ptolemy). Melalui ilmu itu, umat Islam dapat terlibat dalam ilmu perbintangan. Lebih dari itu, umat Islam berhasil membuat peta geografi dengan bantuan buku geografi, Shurahal-Ard Batlamus (The Image of the Earth) yang menjadi landasan untuk menentukan panjang dan luas geografi.

Masih mengenai dunia ilmu Yunani, ilmu kedokteran Yunani, khususnya karya-karya Jalinous dan Baqrat juga disebut-sebut sebagai ilmu yang diserap umat Islam saat itu. Buku Jabir bin Hayyan terkait racun dapat disebut sebagai contoh karya yang menunjukkan bahwa umat Islam sedemikian memanfaatkan karya Baqrat, Jalinous, Plato, Pitagoras, Aristoteles dalam ilmu kedokteran. Akan tetapi, pengenalan ilmu kedokteran di masa itu bukan melalui buku-buku yang diterjemahkan. Dengan ungkapan lain, umat Islam saat itu mengenal ilmu kedokteran langsung dari para dokter Yunani.

Setelah Damaskus ditunjuk sebagai ibukota pemerintah dan khilafah saat itu, hubungan dengan para ilmuwan Yunani lebih mudah. Fouad Sazgin, pakar Timur Tengah, mengatakan, “Muawiyah mendapat informasi dari dokter istana yang bernama Asal, memanfaatkan racun-racun untuk menjaga tubuhnya. Dokter lainnya, Abul Hakam yang beragama Kristen, juga menjadi dokter istana di masa itu. Bahkan disebutkan dalam sejarah bahwa keluarga Abul Hakam menjadi dokter istana dari pertengahan abad pertama hingga abad ketiga hijriah yakni mencakup masa khalifah Bani Umayah dan Bani Abbasiah.”

Menurut Sazgin, berbagai bidang ilmu kedokteran Yunani merambah ke dunia Islam dari akhir abad pertama hingga pertengahan abad ketiga. Hunain bin Ishaq disebut-sebut sebagai salah satu orang yang berperan besar dalam mentransfer ilmu-ilmu kedokteran. Yang lebih mengejutkan lagi, Hunain bin Ishaq di masa itu masih sangat muda, bahkan umurnya tidak lebih dari 17 tahun. Akan tetapi dia mempunyai kemampuan menerjemahkan berbagai karya. Hunain bin Ishaq menerjemahkan ratusan karya Jalinous yang juga dibantu oleh murid-muridnya. Hingga akhir hayat, Hunain bin Ishaq menerjemahkan berbagai karya ilmu kedokteran dari bahasa Yunani. Salah satu buku referensi yang berhasil diterjemahkan adalah buku Dioscorides. Buku itu sangat urgen di bidang herbal bagi kalangan ilmuwan Yunani. Setelah bertahun-tahun, buku referensi itu disempurnakan oleh umat Islam. Dengan bantuan karya-karya tadi, ilmuwan Islam mendapat perhatian luas.

Sebagian ilmu juga merambah ke dunia Islam melalui India. Di awal periode dinasti Abbasiah terjalin hubungan ilmiah atara India dan dunia Islam. Berbagai buku berbahasa India di bidang kedokteran, perbintangan dan lain-lain diterjemahkan ke bahasa Arab. Pakar Timur Tengah asal Italia, Aldomieli, meyakini bahwa ilmu pengetahuan India berperan besar dalam peradaban Islam. Terkait hal ini, Abu Raihan Biruni bisa menjadi rujukan sebagai bukti peran ilmu India di peradaban Islam. Tak diragukan lagi, karya-karya ilmu besar India sangat berperan dalam kemajuan ilmu umat Islam.

Pada tahun 154 hijrah, sejumlah ilmuwan India mendatangi khalifah Abbasiah saat itu, Manshur. Di antara mereka terdapat pakar ilmu perbintangan yang bernama Mankah. Ia termasuk ilmuwan tersohor di masa itu. Mankah sangat mahir dalam ilmu perbintangan India, khususnya metode Zij yang ditulis oleh pakar perbintangan Brahmagupta.

Manshur saat itu meminta ilmuwan India itu supaya mengajarkan metode Zij kepada para ilmuwan istana dan menerjemahkannya ke bahasa Arab. Metode ilmu perbintangan India di bawah bimbingan Mankah sangat populer di masa khalifah Manshur. Ibrahim Farazi, pakar ilmu perbintangan muslim juga diperintahkan mempelajari ilmu perbintangan India dan menulis buku terkait perbintangan.

Abu Raihan dalam berbagai catatannya seringkali menyinggung buku karya Farazi. Dengan demikian, ilmu kedokteran India berperan penting dalam ilmu kedokteran Islam. Dalam kitab al-Fihrist karya Ibnu Nadim disebutkan 12 nama buku kedokteran di awal periode dinasti Abbasiah. Pada dasarnya, umat Islam banyak memanfaatkan obat-obatan nabati, mineral dan hewani dari karya-karya dokter India.

Adapun Iran sebelum Islam juga disebut-sebut sebagai negara yang berpengaruh besar pada peradaban Islam. Pada masa KhosrouAnoushiravan, aktivitas ilmu sangat pesat dan bahkan mencapai era keemasannya. Dalam sejarah disebutkan kota JundiShapour yang terletak di antara kota Shushtar dan Dezful adalah pusat ilmu di masa itu. Di kota itu dibangun sejumlah pusat pendidikan. Untuk menyemarakkan kota ilmu itu, berbagai pakar dan ilmuwan yang beragama Kristen dan berbahasa Suryani diundang ke tempat itu.

Di masa itu banyak buku ilmiah dari bahasa Yunani, Suryani, Sansekerta, diterjemahkan ke bahasa Pahlavi atau bahasa Persia kuno. Menurut sejarah, banyak para ilmuwan di kota Jundi-Shapour yang tertarik menerjemahkan buku di bidang kedokteran. Pusat pendidikan atau universitas Jundi-Shapour diperkirakan didirikan pada abad keempat masehi. Ketika Nastorian digiring dari Odessa atau Urfa ke Iran, para ilmuwan Nastorian memilih bertempat tinggal di Jundi-Shapour. Nastorian banyak menerjemahkan buku berbahasa Suryani. Di masa itu, sejumlah filosof ishraqi Yunani yang diasingkan dari Antena, mengajarkan filsafat dan menerjemahkan buku-buku Plato dan Aristoteles ke bahasa Pahlavi.

Setelah bangsa Iran memeluk agama Islam, banyak buku berbahasa Persia yang diterjemahkan ke bahasa Arab. Karya-karya Persia yang diterjemahkan di masa dinasti Abbasiah lebih cenderung pada aspek sejarah dan sastra. Karya-karya itu didukung penuh warga Iran yang punya pengaruh di dinasti Abbasiah. Salah satu contohnya adalah keluarga Barmakian di masa kekuasaan Harun al-Rasyid yang berpengaruh besar mentransfer keilmuan Persia ke Baghdad dan menerjemahkan buku-buku Iran ke bahasa Arab. Banyak ilmu perbintangan khususnya sejarah ilmu perbintangan yang disadur dari Persia. Di masa itu, banyak dokter terkenal dari kota JundiShapour, termasuk para dokter keluarga Bukhtishu, yang diundang ke Baghdad.

Ibnu Nadim, seorang pakar bibliografi muslim seringkali menyebut para ilmuwan yang berasal dari keluarga Noubakht yang berperan besar dalam menerjemahkan buku bahasa Pahlavi ke bahasa Arab. Abu Sahel bin Noubakht, pakar perbintangan dan putranya, Hasan bin Sahel, adalah penerjemah buku-buku perbintangan bahasa Persia ke bahasa Arab. Salah satu buku yang diterjemahkan Abu Sahel ke bahasa Arab adalah buku Zik Shahriar. Menurut sejarah, buku itu diterjemahkan di akhir dinasti Sasanian. Zij berbeda dengan perhitungan perbintangan biasa, yakni memulai perhitungan malam dan hari dari pertengahan malam seperti yang berlaku pada perhitungan malam dan hari di masa kini. Perhitungan para pakar perbintangan Yunani dan Eropa hingga 1925 memulai perhitungan perputaran malam dan hari dari pertengahan hari. (IRIB Indonesia)