Makmur dan Hina

Posted on Updated on

SedekahAda empat jenis negara dan bangsa di dunia ini, Pertama, negara makmur namun tidak terhormat. Kedua, negara tidak makmur dan terhormat. Ketiga, negara tidak makmur dan tidak terhormat. Keempat, negara makmur dan terhormat.

Negara makmur tapi tidak terhormat adalah negara yang dihuni oleh masyarakat konsumeris, glamour, mendapatkan pelayanan kesehatan dan pendidikian gratis, jaminan sosial dan sebagainya. Namun tidak punya kedaulatan. Haluan politiknya tidak mandiri.

Negara terhormat tapi tidak makmur adalah negara yang dihuni oleh bangsa yang rela hidup sederhana, rela tidak punya mall, dan kotanya tidak gemerlap dengan gedung-gedung menjulang, mobil-mobilnya tidak banyak berbeda merek. Tapi tidak rela sedetikpun menjadi kaki tangan bangsa lain. Pendirian politiknya kokoh. Pemerintahnya berani mengambil keputusan besar demi kemandirian dalam segala bidang dalam jangka lama. Embargo, sanksi dan ancaman perang tidak menggoyahkannya.

Negara tidak terhormat dan tidak makmur adalah negara yang dipimpin oleh koruptor atau orang-orang yang tidak mampu mengambil sikap tegas demi kehormatan bangsa dan rakyatnya. Politiknya membeo. Konsep ekonominya amburadul. Penegakan hukumnya payah. Sebagian rakyatnya kejangkitan individualisme sehingga menciptakan kesenjangan sosial yang berujung pada anarkisme dan meningkatnya kriminalitas. Sebagian lain kejangkitan hedonisme, terbuai dengan SMS kuis demi menjadi kaya dadakan, menghibur diri dengan gaya hidup artis dan selebirits. Sebagian lain mencari klenik demi mengatasi persoalan hidup. Sebagian lain menjadi korban ketidakadilan dan keserakahan para pengusaha dan perusahaan asing yang diuntungkan oleh perjanjian investasi yang tidak masuk akal.

Apa yang dilakukan oleh negara-negara lain, yang sama dengan Indonesia, seperti Iran, Venezuela dan lainnya semestinya dapat dijadikan cermin yang bisa menyadarakan kita bahwa menjadi terhormat jauh lebih mudah ketimbang menjadi makmur di tengah sistem ekonomi dan politik global yang sadis seperti sekarang ini.

Tanpa perlu meminta dikasihani atau diapresiasi, Ahmadinejad berjanji akan memberikan teknologi nuklir damainya kepada negara-negara lain. Tapi apa mesti dikata, teriakan presiden berpenampilan “gembel” itu lenyap ditelan kebisingan diplomasi, omong kosong dan verbalisme palsu yang disemburkan oleh corong-corong media FOX, CNN dan lainnya.

Sebagai bangsa yang memiliki sejarah budaya ketimuran yang menjunjung tinggi toleransi dan anti kezaliman, kita berpeluang untuk bergabung dengan bangsa-bangsa dan negara-negara terhormat di dunia. Kita mungkin akan sulit untuk mengatasi krisis ekonomi dalam jangka pendek, namun mencontoh kemadirian dan nasionalisme yang yang diperlihatkan oleh Ahmadinejad, Huga Chavez dan pejuang-pejuang kerakyatan lainnya, bangsa Indonesia bisa menjadi makmur sekaligus terhormat.

Nasionalisme berarti ‘paham kebangsaan’. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994:89), salah satu arti bangsa adalah kumpulan manusia yang biasanya terikat karena kesatuan bahasa dan kebudayaan dalam arti umum, dan yang biasanya menempati wilayah tertentu di muka bumi.

Nasionalisme sejati bukanlah semata jargon dan sarana klaim, namun keberanian untuk melakukan otokritik terhadap bangsa sendiri. Korupsi adalah salah satu contoh nyata sikap a-nansionalisme yang sampai sekarang menjadi musuh terbesar bangsa Indonesia. Virus korupsi tidak hanya menjangkiti pejabat namun nyaris menjadi fenomena lumrah di tengah masyarakat, mulai dari pembobolan bank, mark up proyek, dan tender palsu hingga pungutan liar, penyuapan oknum petugas, penggelapan pajak, dan pencurian listrik.

Kehendak untuk menjadi terhormat di hadapan bangsa lain memang sudah terpatri dalam dada bangsa Indonesia, namun kita harus menunjukkannya secara lebih atraktif dengan membangun sistem ekonomi yang mandiri, politik yang strong dan kerelaan untuk menunda kemewahan artifisial, individual dan temporal demi kemakmuran jangka panjang yang lebih merata.

“Tidak akan ada orang yang kaya raya melainkan ada pada saat yang sama hak orang lain yang diambil secara aniaya” (Ali bin Abi Thalib).

Salam 5 Jari
by Muhsin Labib