Esensi Penistaan Sakralitas dalam Islam oleh “Muslim”

Posted on

1111Tanggal 2 Mei 2013, anasir teroris Al-Nusra menistakan menyerang dan menggali makam salah satu sahabat dekat Nabi Muhammad Saw, Hujr Ibn Adi yang terletak di distrik Adra, dekat Damaskus dan mengambil jenazahnya ke tempat yang tidak diketahui.

Selang sehari, Sabtu (4/5), kelompok tersebut kembali melakukan penistaan tidak beradab para teroris terhadap makam makam sepupu Nabi Muhammad Saw, Jafar bin Abi Thalib yang dikenal dengan Jafar al-Tayyar, di selatan Yordania. Ratusan Wahabi ekstrim dan kelompok takfiri di Karak membakar makam tersebut.

Aksi penistaan itu dikecam keras oleh berbagai pihak. Ketua Parlemen Republik Islam Iran, Ali Larijani mengecam keras perusakan dan penggalian makam tokoh Islam di pinggiran Damaskus, ibukota Suriah, oleh kelompok bersenjata. Dia sangat menyayangkan penistaan terhadap makam Hujr bin Adi, sahabat Rasulullah Saw dan pendukung pertama Imam Ali bin Abi Thalib as.

Menurutnya, tidak diragukan lagi, tindakan biadab oleh teroris di Suriah itu mengindikasikan ketidakpercayaan mereka terhadap Islam dan nilai-nilai umat Islam.

Syeikh Hassam Syuaib, seorang mubaligh terkemuka mereaksi aksi penistaan itu dan menuding Qatar, Turki serta Arab Saudi bekerjasama dengan kelompok takfiri dalam menistakan kesucian Islam dan merusak makam para tokoh agama. Dikatakannya, “Penggalian makam sahabat Nabi Muhammad Saw itu tidak dapat dimaafkan dan merupakan penistaan terhadap Islam, dan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) harus segera bertindak mencegah terulangnya aksi serupa.”

Menurutnya, penggalian makam sahabat Nabi itu menunjukkan bahwa para kelompok bersenjata takfiri dan Wahabi sama sekali tidak menghormati nilai-nilai yang diyakini umat Islam.

Kecaman serupa juga dikemukakan oleh ulama Sunni Irak, Syeikh Mahdi Al-Sumidai seraya mengecam kebungkaman lembaga-lembaga Islam atas aksi-aksi tersebut. Kebungkaman seperti ini akan menimbulkan fitnah antarumat Islam.

Berdasarkan keterangan saksi mata, para teroris ketika melakukan kejahatan itu disaksikan warga setempat yang merasa tidak senang dengan perbuatan mereka, akan tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Setelah berhasil mengeluarkan jenazah Hujr bin Adi dari dalam makam, para teroris berjoget dan bersuka cita.

Makam Hujr bin Adi telah diakui oleh Markas Fatwa Internasional sebagai tempat ziarah yang harus dilindungi. Adapun aksi perusakannya berakar dari pemikiran Wahabi.

Seorang saksi mata menyebut aksi kejam para teroris itu dan mengatakan, “Apakah serangan ke makam Hujr bin Adi ini adalah kebebasan yang dimaksud mereka, dan apakah para teroris sedang berusaha menjauhkan rakyat Suriah dari Islam dan nilai-nilainya?”

Jumat (3/5), Gerakan Muqawama Islam Lebanon Hizbullah juga merilis statemen mengecam penistaan para teroris terhadap makam Hujr bin Adi di Suriah.

Seraya menilai kejahatan tersebut sebagai tindakan yang tidak dapat ditolerir dan tragedi besar, Hizbullah juga menyebutkan bahwa Sekjen Hizbullah Sayid Hasan Nasrullah, dua hari sebelum kejahatan tersebut dilakukan, telah memperingatkan bahaya penistaan nilai-nilai sakral umat Islam oleh para teroris.

Kejahatan itu menurut Hizbullah mencuatkan pertanyaan tentang di mana posisi para anasir teroris itu dalam klaim mereka menjunjung tinggi sakralitas dan para tokoh agama.

Tujuan utama di balik aksi penistaan tersebut adalah menyulut fitnah dan perang mazhab antarumat Islam.

Syeikh Ahmad Al-Qahtan, pemimpin lembaga Qouluna wa Al-Amal Lebanon dalam hal mengatakan, kelompok yang melakukan kejahatan tersebut tidak sedang memperjuangkan kebebasan dan demokrasi, melainkan ingin menyulut perang sektarian. (IRIB Indonesia/MZ)